Kisah Perjalanan Hidup Seorang Anak Desa

Kehidupan Masa Kanak-kanak di Desa

Desa Bilalang adalah sebuah Desa di pedalaman daerah Bolaang Mongondow terletak kira-kira 5 km dari ibu kota Kotamobagu, dengan penduduk kurang lebih 7000 jiwa dan berhawa sejuk.Desa tersebut kini sudah dimekarkan menjadi 4 (empat) Desa yakni Bilalang I, II, III dan IV. Bilalang I dan II masuk kecamatan Kota Utara-Kota Kotamobagu, sedangkan Bilalang III dan IV masuk wilayah Kecamatan Bilalang Kabupaten Bolaang Mongondow. Kemudian Desa Bilalang III dan IV dimekarkan lagi masing-masing menjadi 2 (dua) Desa.Pada zaman Jogugu A.P Mokoginta (Abo Jogugu Abram) dahulu, sudah diadakan penataan model Kampung-kampung yang ada di Mongondow. Pada umumnya Desa-desa mempunyai tanah lapang dan disekitarnya terdapat Masjid, Sekolah dan Kantor Kepala Desa. Jalan-jalan dalam lingkungan Desa-desa besar seperti Desa Bilalang, Matali, Bolaang dan lain-lain dibangun sejajar dan persegi empat (blok-blok). Dengan demikian, kelihatan Desa kelihatan tertata dengan baik. Abo Jogugu Abram dimaksud adalah seorang ahli pertanahan (agraria) dan seorang Nasionalis yang kemudian bermukim di Semarang dan pernah menjadi anggota Volksraad di Jakarta pada zaman Belanda. Beliau ayah dari Ibu Lena Sukamto – Mokoginta (isteri mantan KAPOLRI Sukamto, Let. Jen (Purn) A.J. Mokoginta, Bua’ Lily Mokoagow – Mokoginta dan Abo’ Dolly Mokoginta.
Saya dilahirkan di desa Bilalang tepatnya di wilayah perkebunan bernama Tudu Aga pada tanggal 5 Mei 1935. Desa Bilalang mempunyai wilayah perkebunan yang luas yakni Tudu Aga, Tudu Aog yang sekarang sudah menjadi Desa Tudu Aog I, II dan Kolingangaan, Tudu Tawan, Tudu Bilalang, Lokuon, Apado’, Buyayon, Mokikit, Kokapoi, Molotong dan Simantakan. Tudu Aga terletak kurang lebih 3 Km dari Desa Bilalang dan merupakan persimpangan jalan menuju Tudu Aog, Lokuon dan Apado’. Yang menangani/membidani proses kelahiran saya adalah Ayah saya sendiri. Seperti kebiasaan pada waktu itu, anak yang baru lahir diletakkan di ”kolakup” (pelepah pinang) yang baru diambil dari pohon pinang dan dibersihkan. Ayah memotong tali pusat dengan menggunakan ”londit” (sembilu) yang tajam terbuat dari kulit bambu.
Ayah saya bernama Arang Anggai Mokoginta yang biasa kami panggil ”Apa” dan Ibu bernama Asingki Manangin biasa kami panggil ”Inde”. Kedua orang tua kandung saya ini berlatar belakan petani dan bekerja keras yang telah mengasuh, membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Ayah saya masih mempunyai hubungan dengan Ibu mertua saya yakni Ibu Anna Andeo Mokoginta, yang jika ditarik silsilah garis keturunan keluarga, masih berasal dari leluhur keluarga besar Mokoginta yaitu ”Abo’ Mokoginta” yang makamnya kini berada di Desa Bilalang. Kalau Ayah saya berasal dari garis keturunan salah seorang anak Abo’ Mokoginta yaitu ”Abo’ Mutu”, sedangkan Ibu mertua saya berasal dari garis keturunan anak lainnya yaitu ”Bai’ Ampe”. Ibu saya berasal dari keturunan tokoh masyarakat di Desa Bilalang. Ayah kandungnya bernama ”Okot”, seorang pegawai syara’ (Jiow). Mereka masih keturunan dari ”Aki Balanda” yang terkenal karena keberaniannya melawan Belanda yang memperlakukan rakyat dengan semena-mena.
Ayah saya adalah seorang yang sederhana. Pendidikannya hanya sampai Sekolah Desa dan bercita-cita menjadi guru, suatu profesi yang dimungkinkan pada waktu itu bagi anak-anak dari kalangan rakyat biasa. Namun cita-cita ini kandas karena saat penjajahan Belanda, sekolah yang ada hanya Sekolah Zending dan gurunya harus memeluk agama Kristen, sedangkan keluarga tidak mengizinkannya pindah agama. Ada juga saudara sepupu saya yang bernama Sem Mokoginta yang menjadi guru dan masuk agama Kristen, tetapi hubungan kekeluargaan tetap akrab.
Sebagai salah seorang tokoh masyarakat yang cukup dikenal di Desa Bilalang dan Desa-desa tetangga, Ayah saya kemudian menjadi Kepala Desa Bilalang (pada waktu itu belum dimekarkan). Sebelumnya menjadi ”Porobis” (Pembantu Kepala Desa merangkap Kepala Dusun). Sebagai petani, ayah dan ibu mempunyai kebun di Tudu Aga, Lokuon, Tudu Tawan dan kemudian di Tudu Bilalang dan Sinantakan. Tanah-tanah pertanian tersebut ditanami jagung, padi ladang, kopi dan kelapa yang hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Di kebun Sinatakan ada sedikit persawahan, pada waktu mengolah kebun di Lokuon yang ditanami dengan jagung, saya masih kecil dan bermain bersama kakak perempuan saya bernama Naomi.tiba-tiba bangunan yang terbuat dari bambu (”genggulang”) dan sarat berisi jagung yang baru dipanen roboh dan menimpa kami, syukur saya bisa ditemukan di tengah-tengah onggokan jagung.
Di kemudian hari, ayah saya berusaha juga di bidang pertambangan emas tradisional kecil-kecilan (tambang rakyat) di Tobongan (dekat Modayag) yang hasilnya digunakan untuk menambah biaya keluarga dan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Syukur kehadirat Allah SWT karena pada suatu waktu ayah beroleh rezeki dan karunia Allah SWT berupa hasil pertambangan emas yang cukup lumayan (dalam ukuran kilogram), sehingga dari hasilnya ayah dapat membeli sebidang tanah yang cukup luas terletak di perbatasan Desa Bilalang dan Desa Passi. Tanah tersebut adalah bekas berdirinya rumah tempat tinggal Pendeta Dunnebier di zaman Belanda (rumah Pendeta diangkat / dipindahkan di Kuna, Desa Popo dan masih ada sampai sekarang). Tanah tersebut di bagi kepemilikannya kepada saudara-saudara saya. Selain dapat membeli sebidang tanah tersebut, dapat juga membeli mobil bus berpenumpang, patungan dengan orang lain (yakni Sangadi Bai’) yang beroperasi antara Kotamobagu-Manado namanya adalah ”IDAKOTA” (Ikatan Dagang Kotamobagu).
Ayah saya cukup lama menjabat sebagai Kepala Desa Bilalang sampai dengan pendudukan Jepang dan sesudahnya. Pada masa pendudukan Jepang, rakyat Desa harus diajak berkebun, menanam kapas, menanam Jute (bahan untuk karung goni ), memelihara ulat sutra dan menanam pohon jarak. Hasil kebun berupa padi tidak boleh dimakan tetapi harus dikumpulkan untuk kebutuhan tentara Jepang, namun demikian ada juga rakyat yang sembunyi-sembunyi memasak nasi dari beras padi, dan bahkan ada rakyat Desa Bilalang yang tidak tahan dengan tekanan Polisi Jepang (Maeda), sehingga melarikan diri masuk hutan. Pada waktu itu para sangadi berada di bawah tekanan para Polisi Jepang tersebut, dipaksa harus melaksanakan tugas-tugas untuk kepentingan tentara Jepang. Tidak jarang Polisi Jepang tersebut bertindak kejam dengan menendang dan memukul bahkan mencambuk. Dengan sendirinya ayah saya juga sebagai Sangadi tidak luput dari kekejaman tentara jepang ini. Namun demikian, ayah tetap tabah dan tetap menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Pada suatu saat datang Polisi Jepang (Maeda) dengan kekejamannya yang semakin menjadi. Saat itu ada beberapa orangtua yang berkumpul di rumah dan kakak saya tertua saya yang menyaksikan kekejaman tersebut, mereka tak tahan lagi melihatnya dan bermaksud untuk membalas kekejaman Polisi Jepang tersebut, tetapi ayah melarangnya seraya mengatakan ”biarkan saja… karena jika dilakukan, nanti lebih banyak orang / rakyat yang menjadi korban”. Demikian sekilas mengenai perjuangan hidup ayah saya dalam mempertahankan keberadaan keluarganya, dan dalam mengayomi rakyat menghadapi kekejaman saat Jepang berkuasa.
Dalam kedudukannya sebagai Kepala Desa dan tokoh masyarakat, ayah saya juga adalah seorang yang berwibawa dan humoris, bila ada permasalahan di kampung, maka secepat mungkin diselesaikan secara adat, misalnya masalah kepemilikan tanah, pencurian, masalah keluarga (seperti perselingkuhan, perceraian), dan lain-lain. Seringkali pada malam hari diadakan semacam sidang adat, dan saya sering mengikuti jalannya kegiatan tersebut karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ayah selalu dengan gayanya yang humoris. Untuk masalah-masalah perselingkuhan, kami anak-anak tidak diijinkan mendengarkan karena pertanyaan-pertanyaannya sampai pada hal-hal yang mendetail.
Dalam kehidupan sehari-hari, apabila ayah saya memerlukan pertolongan seseorang misalnya memanjat kelapa untuk keperluan masak di rumah, beliau langsung saja memanggil orang yang lewat, sebelum minta tolong, orang tersebut diajakya minum kopi terlebih dahulu yang dibagi dalam mangkuk yang sama dan diberikan rokok yang ia namakan ”horose”(di zaman Belanda ada rokok cap kuda ”Horse” dan orang-orang tua di kampung menyebut ’horose’ untuk rokok putih walaupun mereknya lain).
Ayah saya juga sangat senang bermain dengan cucu-cucu bila datang ke Manado. Anak-anak saya sangat senang mendengarkan ceita-cerita dari ”Ete” mereka (panggilan cucu-cucu kepada kakek mereka). Ayah saya selalu mengajarkan anak-anak saya bahasa ”Mongondow”, lagu-lagu dalam bahasa Mongondow, dan menceritakan cerita-cerita rakyat. Selama saya menjalankan tugas, dan setelah berkeluarga, selalu teringat akan nasehat ayah saya yang mengatakan ”Onu in modungkulmu, yo dika tonga’ popokaan kon toya’” artinya apa yang diperoleh, jangan hanya digunakan untuk memberi makan pada ikan (Dahulu bila membuat hajat di sungai, di sana banyak ikan yang sudah menunggu). Jadi maksudnya, penghasilan jangan semuanya untuk makan tetapi ada yang disisihkan untuk ditabung. Demikian juga nasehat beliau ”Dika monomboga’, bo dika moibog tombogaan” (Jangan menipu dan jangan suka ditipu). Maknanya ialah harus melaksanakan kewajiban dan memperjuangkan hak. Ayah juga suka mengirim surat kepada kami. Ada surat yang sampai sekarang masih saya simpan, dimana setelah memberi kabar tentang keadaan mereka di kampung dan menanyakan keadaan kami dan anak-anak, belia selalu menulis ” dika pokaanon in ki adi’ bo ki buloimu takin barang inta dia’ mo halal” (Jangan memberi makan anak dan isterimu dengan barang yang tidak halal).
Ayah saya juga adalah seorang yang berjiwa pionir, di kemudian hari dalam masa tuanya, bersama Kepala Desa, ayah memimpin / mengajak masyarakat Bilalang untuk berpartisipasi / bergotong royong dalam pekerjaan pembukaan jalan antara Modayag-Molobog di bagian timur Bolaang Mongondow. Jalan tersebut diresmikan oleh Gubenur H.V.Worang sebagai pertanda dimulainya Repelita I pada tahun 1969-1970. Bupati Bolaang Mongondow pada waktu itu ialah Oe.N.Mokoagow. Dengan dibukanya jalan tersebut, sekaligus juga mengajak masyarakat untuk membuka perkebunan pada tanah-tanah yang diizinkan seperti di Badaro. Saat itu saya menjabat sebagai Kepala Biro Distribusi di Kantor Gubernur dan bersama isteri ikut dalam rombongan Gubernur. Jalan yang diresmikan masih jalan tanah sehingga bila hujan akan menjadi becek dan licin. Ketika itu, pada suatu tanjakan rombongan terhenti karena mobil Bapak Gubernur di depan tidak bisa naik, dan harus ditarik oleh masyarakat yang ada di tempat tanjakan tersebut. Saya begitu kaget saat melihat ayah saya ada di antara orang-orang itu, dan saya hendak menemuinya, akan tetapi ayah mengatakan ”Terus saja, kamu melaksanakan tugasmu dan saya melaksanakan tugas saya”. Saat itu beliau merasa bangga karena di antara rombongan Gubernur ada seorang anaknya.
Ayahku meninggal dunia dalam usia 75 tahun, sehari menjelang HUT Propinsi Sulawesi Utara tangal 23 September 1976. Tiga hari sebelum beliau meninggal dunia, saya bersama isteri dan anak-anak sempat menjenguk dirumah sakit Kotamobagu, tetapi karena saya menjadi Ketua Panitia HUT Propinsi, maka ayahku menyuruh saya segera kembali ke Manado. Malam itu menjelang ayah meninggal dunia, keluarga di bilalang mengutus Urip (sepupu isteri saya ) dan Djainuddin (keponakan saya) untuk mengabarkan kepada kami di Manado. Mereka mengendarai sepeda motor dan menjelang subuh tiba di Manado, tetapi karena semalaman di jalan, mereka langsung tidur tanpa menyampaikan lebih dahulu kabar duka kepada kami. Pagi-pagi saat saya dan isteri berangkat menuju tempat upacara di lapangan Tikala, kabar tentang meninggalnya beliau saya terima melalui SSB Kantor Gubernur saat upacara hampir selesai. Selesai upacara saya langsung minta izin kepada Bapak Gubernur, dan bersama isteri saya menjemput anak-anak untuk langsung ke Kotamobagu dengan mobil dinas landrover yang dipinjam dari Drs.J.A.Damopolii yang kondisinya masih lebih baik dari mobil dinas saya, agar dapat lebih cepat tiba di Kotamobagu. Drs.A.Najamuddin yang mewakili Bapak Gubernur dalam upacara pemakaman sudah tiba lebih dahulu di Bilalang, rupanya beliau berusaha mengejar mobil yang saya tumpangi yang ternyata berada di belakang mobilnya, karena kami masih mampir menjemput anak-anak di rumah dan mencari Sopir. Kami sekeluarga tiba di Bilalang sebelum jenazah dimandikan sehingga saya masih dapat melihat wajah ayah untuk yang terakhir kalinya, sekaligus ikut men-sholatkan jenazah beliau. Saya hanya dapat berdo’a ”Rabbig firli wali ali daia warham huma kama robbayaani shagira”. Ibu saya, Inde’, disamping membesarkan anak-anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, juga membantu pekerjaan di sawah dan ladang. Inde’ adalah wanita sederhana, bila makan lauknya hanya sayur dan ikan kering, dan lebih suka ikan yang kecil-kecil (tandipang). Beliau tidak makan daging, ayam telur ataupun ikan segar, tetapi sangat pintar memasak makanan tradisional yang cita rasanya enak sekali. Inde’ tidak mau minum air sumur tetapi harus air dari mata air di Gunung. Jadi kalau datang di Manado, maka saya harus pergi mengambil air di Tinoor yang jaraknya ± 10 km dari Manado. Air kemudian diisi dalam botol secukupnya dan bila persediaan habis, maka beliau hanya mau minum air kelapa sebagai pengganti. Inde’ juga mempunyai fisik yang kuat, suatu ketika ada pertunjukan lumba-lumba dan anjing laut di gedung KONI Sario. Pengunjung begitu banyaknya sehingga jalan masuk dipadati orang-orang, namun beliau mampu mendorong orang-orang ke kiri dan ke kanan untuk membuka jalan masuk bagi rombongan, sehingga kami dapat masuk dengan aman. Inde’ meninggal dunia dalam usia 82 tahun ketika saya menjabat sebagai Pembantu Gubernur Wilayah II di Gorontalo, isteri bersama anak saya, Nita, hadir sebelum beliau wafat dan pada waktu penguburan. Lisa dan Marini, kedua anak saya, tiba di Bilalang sudah malam dan jenazahnya sudah di makamkan, saat itu, setelah menerima berita duka, saya harus naik pesawat udara dari Gorontalo kemudian ke Manado terlebih dahulu, kemudian meneruskan perjalanan dengan mobil ke Bilalang / Kotamobagu.
Saya adalah anak ke enam dari sembilan bersaudara yang hidup. Sebenarnya kami ada 11 (sebelas) bersaudara tetapi yang 2 (dua) meninggal dunia waktu dilahirkan. Kakak yang tertua bernama Ali Paha Salmon Mokoginta (kak Ali) seorang aktivis Syarikat Islam. Di masa mudanya beliau menjadi PNS, kemudian diangkat menjadi camat Lolak dan sesudahnya menjadi Camat Passi. Setelah pensiun dari PNS, menjadi anggota DPRD Bolaang Mongodow sampai akhir hayatnya. Berbeda dengan ayah saya yang lembut dan periang, kak Ali mempunyai sifat yang tegas dan mendidik kami dengan keras namun mengayomi. Bila ada orang yang memperlakukan adik-adiknya dengan tidak sewajarnya, maka sedapat mungkin dia membela dan menghadapi orang yang bermaksud tidak baik itu. Isteri ’kak Ali bernama Bounya Mokoginta. Semasa hidupnya mereka berdua sempat menunaikan ibadah Haji. Anak-anak mereka semuanya 8 orang, dimana yang 7 orang sudah berkeluarga, bekerja sebagai PNS, dan tinggal di Bilalang. Anak kedua kak Ali (Al Rasyid) pernah menjadi anggota DPRD Bolaang Mongodow, anak ketiga kak Ali juga (Muhamad) menjadi Sekretari Kota Kotamobagu dan anak yang kedelapan dari kak Ali (Hidayat) menjadi Camat Kota Utara. Dua orang anak kak Ali laki-laki (Dauhan dan Djainudin serta perempuan Sinusung) sudah meninggal dunia. Kakak yang tertua bernama Taha Mokoginta (kak Ota). Semasa hidupnya pernah menjadi perawat di Rumah Sakit Kotamobagu. Kak Ota meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda dan meninggalkan seorang isteri bernama Keresia (kemudian kawin lagi), yang juga meninggal dunia. Mereka tidak mempunyai anak. Anak perempuan ketiga dari Ayah-Ibu saya bernama Josina Mokoginta. Suaminya bernama Saleh Mokoginta (sudah meninggal dunia), dan masih ada hubungan keluarga, dimana ibunya adalah sepupu ayah saya (keponakan ayah saya). Anak mereka 2 orang, yaitu Suryani (perempuan) dan Urip (laki-laki) yang sudah meninggal dunia. Keduanya sudah berkeluarga. Kak Josina sekarang berada di Manado bersama anaknya Suryani dan juga cucu-cucunya. Anak ke empat Ayah-Ibu saya, adalah seorang kakak perempuan yang bernama Djanah Mokoginta, ia meninggal dunia dalam usia masih remaja. Anak kelima adalah kakak perempuan bernama Naomi Mokoginta, suaminya bernama Hasani Mokoginta, seorang pensiunan PNS, keduanya sudah meninggal dunia. Anak-anak mereka ada 4 orang yakni Tamrin, Partia, Erlita , dan Irwanto, semuanya PNS, sudah berkeluarga serta tinggal di Bilalang. Anak yang ke tujuh Ayah-Ibu adalah adik laki-laki bernama Tilung Mokoginta SH, yang bekerja sebagai karyawan Bank BNI. Setelah pensiun, ia menjadi anggota DPRD Sulawesi Utara periode 1999-2004. Ia menikah dengan Lena Gaib SH, juga seorang PNS dan pernah menjadi anggota DPRD Sulawesi Utara. Anak-anak mereka ada 3 orang semuanya PNS di antaranya seorang Dokter (Leti) dan seorang Jaksa (Chairul), keduanya sudah berkeluarga. Sekarang mereka menjalani masa pensiun bersama anak cucu di Manado. Anak yang kedelapan Ayah-Ibu, seorang adik perempuan bernama Baria Mokoginta. Suaminya bernama Janel Mokoginta dan mereka tinggal di Bilalang bersama anak-cucu mereka. Ketiga anak-anaknya sudah berkeluarga dan semuanya PNS yaitu Bachtiar, Samima , dan Utari. Anak yang ke sembilan Ayah-Ibu adalah adik perempuan bernama Suriah Mokoginta, dan sudah meninggal dunia dalam usia masih anak-anak.
Kehidupan saat masih kecil, saya lalui dengan berbagai kenangan dan pengalaman di desa Bilalang. Sebagaimana layaknya kehidupan di masa anak-anak, maka saya mengalami juga kebersamaan dengan sesama anak-anak di desa yang pada umumnya sangat berkeinginan untuk bermain apa saja. Kami biasa memandikan kuda bersama-sama di sungai dan setelah itu dilanjutkan dengan balapan. Sering juga bersama teman-teman kami menyusuri sungai untuk mencari udang dan sejenis ikan lele yang dinamakan ”bolowo” dengan menggunakan anak panah dari kawat. Hasilnya dimasak/dibakar sendiri dan dimakan bersama. Yang menarik pula karena penuh tantangan ialah bersama teman memanjat pohon durian yang cukup tinggi di malam hari untuk mengambil madu lebah dengan cara membakarnya. Hasilnya cukup memadai dan dibagi merata. Pada waktu menjaga kebun di tudu Bilalang, saya juga sudah belajar memanjat pohon aren/nira (pangkoi koito’) dengan menggunakan tangga yang terbuat dari bambu untuk membuat sejenis minuman yang dinamakan ”saguer”. Saguer ini menjadi bahan untuk membuat sejenis minuman keras ”cap tikus”, bisa juga untuk membuat gula merah dan yang rasa asam manis bisa diminum sambil makan. Cara membuatnya ialah memukul-mukul pelepah yang ada buahnya, kemudian ujungnya dipotong dan dibungkus dengan kain, lalu airnya yang menetes ditampung dengan bambu yang besar dibiarkan semalaman. Besok paginya air saguer dalam bambu sudah dapat di ambil. Selain itu, walaupun masih anak-anak, saya sudah biasa mengikuti tante saya ke pasar pada hari-hari pasar dan membawa jualan pisang menggunakan 2 (dua) bola dibuat dari papan dan didorong dengan sepotong kayu untuk tempat gantungan pisang. Bersama teman-teman kami belajar ”hadrah” di masjid, sejenis kesenian Islam yang menggunakan rebana , dipimpin oleh beberapa orang ustadz (jiow) . Kelompok hadrah ini mengisi acara-acara keagamaan dan sering juga mengiringi pengantin laki-laki saat diantar ke rumah pengantin perempuan pada acara perkawinan. Pengalaman lainnya ialah memimpin klub sepak bola anak-anak yang pergi bertanding dengan anak-anak di desa tetangga, bahkan pada waktu sekolah di Tomohan (saat usia remaja) bila liburan ke kampung, saya masih memimpim orkes keroncong (menggunakan biola dan gitar) dan pertunjukan sandiwara masyarakat di desa Bialalang dan desa sekitarnya. Masyarakat cukup terhibur dengan pertunjukan sandiwara ini karena hiburan saat itu masih sangat kurang, dimana bioskop hanya ada satu di Kotamobagu, dan belum ada siaran televisi.
Di masa anak-anak, saya sudah terbiasa berkebun, dengan menanam kacang tanah dan semangka di Tudu Bilalang dan Kaotan. Untuk mengerjakan kebun, bersama teman-teman kami bergotong-rotong atau ”momosad” secara bergiliran. Ada pengalaman yang lucu dalam momosad ini, dimana pada waktu giliran saya, saya menyiapkan makan pagi dan makan siang. Tiba giliran teman saya, pagi hari kami makan-minum kelapa muda sambil menunggu waktu makan siang. Sudah tiba waktunya makan siang dan sudah sangat lapar, kami terpaksa menanyakan kepada teman tersebut mana makan siangnya tetapi dijawab dengan dingin bahwa makan-minum kelapa, muda tadi sudah termasuk makan siang. Terpaksa menerima kenyataan saja, yaitu kelaparan!. Dalam mengerjakan kebun atau sawah, saya sudah belajar ”membajak” dngan menggunakan sapi. Hal ini diajarkan oleh kakak ipar saya, Saleh Mokoagow (suaminya kak Jasina ). Bahkan kakak ipar saya ini pernah mengajak saya ikut bersamanya ke Inobonto dengan mengendarai roda sapi yang ditutup dengan atap bulat terbuat dari ijuk. Memang pada waktu itu mobil angkutan barang boleh dibilang belum ada sehingga roda sapi merupakan salah satu alat transportasi andalan dalam mengangkut hasil-hasil bumi (kopra,kopi) dari Kotamobagu ke Inobonto, dimana terdapat Pelabuhan, dan sekembalinya ke Kotamobagu, kami mengangkut barang-barang dagangan seperti gula, terigu, ikan asin dan lain-lain. Lama perjalanan adalah 1 (satu) malam, bila berangkat sore hari maka akan tiba pagi harinya, demikian juga sebaliknya, dengan menepuh jarak ± 40 km melalui jalan yang berbatu-batu, dan belum mulus seperti sekarang. Dalam perjalanan, kami membawa bekal berupa beras dan lauk sekedarnya untuk dimasak di pinggiran jalan. Kendaraan roda sapi ini berangkat Pulang-Pergi secara berombongan (5 sampai 10 roda sapi), sehingga menjadi satu konvoi. Ini merupakan pengalaman luar biasa bagi saya, terlebih pada saat itu baru pertama kalinya saya melihat ”Laut” yang berada di Inobonto.
Pada waktu pendudukan Jepang, kehidupan masa kecil saya sedikit banyak pengalaman juga, ketika di kebun Tudu Bilalang, kami dapat melihat Pesawat Udara Sekutu yang datang dari Morotai dan menjatuhkan bom di Jembatan Mopait, Desa Tungoi. Di kebun sudah dibuat tempat perlindungan, selain digunakan untuk berlindung dari serangan udara, juga sebagai tempat persembunyian untuk memasak nasi dari beras. Saat Jepang berkuasa, rakyat tidak boleh makan beras karena harus diberikan kepada Tentara Jepang. Kalau ingin tidur di ”laig”(rumah tidak permanen), dan kedinginan, mau tidak mau harus memakai selimut yang terbuat dari karung goni. Keadaan berubah saat Jepang menyerah dan datang Tentara Sekutu yang terdiri dari Tentara Australia dan Tentara NICA (Netherlends Indie Civil Administration), juga orang-orang Belanda dan orang-orang Indonesia yang menjadi Tentara Belanda atau disebut KNIL (Koninklyke Nederlands Indie Legar). Di Kotamobagu ada juga tentara NICA, dan kepada mereka kami menukarkan ayam dengan ’kain strep’ (motif garis), dan ’kain blacu’ (sejenis kain agak kaku) untuk dijadikan pakaian.

MEMASUKI USIA SEKOLAH

1.SD Pontodon
Ketika memasuki usia sekolah yaitu saat berusia 7 tahun. Ayah mengusahakan agar saya mulai bersekolah. Karena di desa Bilalang pada saat itu belum ada Sekolah, maka saya dimasukan ke Sekolah Desa di Desa Pontodon yang bertetangga dengan desa saya, Bilalang. Di Sekolah Desa tersebut saya hanya tamat sampai kelas II. Proses belajar-mengajar di Sekolah Desa tidak sama seperti sekarang, dimana murid-muridnya pada waktu itu selain belajar di Sekolah, juga harus membantu pekerjaan di rumah sang Guru. Kepala Sekolah Desa Pontodon pada waktu itu bernama Tuan Guru Markus Simbala. Beliau memiliki rumah cukup besar dengan halaman yang luas terletak tidak jauh dari Sekolah. Semua murid termasuk saya setelah selesai mengikuti pelajaran harus membantu ”Nyora” (panggilan untuk isteri tuan guru) seperti mengambil air dengan menggunakan bambu (bahasa Mongondow ”tandai”), pergi ke mata air, membelah kayu bakar, mencukur kelapa, menumbuk padi, membersihkan halaman, dan sebagainya. Memang keinginan sekolah pada waktu itu masih terganggu dengan keinginan bermain-main, sehingga seringkali malah tidak mau bersekolah atau berpura-pura sakit. Pernah suatu waktu saya tidak mau kesekolah dengan alasan sakit. Rupanya kak Ali (kakak yang tertua), sudah mengetahui bahwa alasan saya ini hanya berpura-pura, lalu dibilangnya kepada ibu saya agar saya disuruh tidur dan diselimuti jangan sampai masuk angin, dan kalau minta makan cukup dibuatkan bubur cina saja. Karena tidak tahan siang hari panas diselimuti sampai berkeringat, maka akhirnya saya mengaku hanya pura-pura sakit. Selain itu juga saat pendudukan Jepang, kegiatan belajar-mengajar pada umumnya belum menentu. Murid-murid sekolah lebih banyak dikerahkan untuk memenuhi kebutuhan tentera Jepang seperti menanam kapas, jude, pohon jarak, dan menanam padi di kebun/ di sawah. Sebenarnya sebelum pendudukan Jepang ada Sekolah dengan menggunakan bahasa Belanda yaitu HIS (Holland Inland School) di Kotamobagu, tetapi yang dapat masuk ke Sekolah itu hanya anak-anak Raja atau Bangsawan, anak-anak Panggulu atau Mayor Kadato, dan anak-anak dari Pegawai Pemerintah Kerajaan. Sedangkan anak-anak dari rakyat biasa pada umumnya tidak diperbolehkan masuk.
Disamping mulai bersekolah saya sudah mulai belajar ”mengaji” sekaligus mempelajari agama Islam. Guru mengaji saya adalah kakak saya sendiri ’kak Ali. Namun demikian, hubungan antara guru dan murid tetap berlaku sebagaiman lazimnya antara lain murid diharuskan tinggal dirumah guru. Pada malam hari belajar agama dan mengaji, dan siang hari sepulang sekolah membantu pekerjaan dirumah dan dikebun. Pelajaran mengaji dimulai dari buku ”Makadam” yang memuat antara lain abjad huruf Arab, cara membacanya dan merangkainya dalam bentuk kalimat. Setelah dapat menguasai buku makadam baru dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat di Alqur’an. Syukur Alhamdilillah dalam waktu yang relatif singkat, saya sudah dapat menguasai/memahami buku Makadam dan selanjutnya sudah dapat membaca Al-Qur’an sampai khatam/tammat. Bahkan saya sudah dipercayakan oleh ’kak Ali-guru saya untuk mewakilinya pada waktu-waktu tertentu menuntun teman-taman lainnya (a.l.Iyeng dan Sogi) yang juga menjadi murid mengaji untuk membaca Makadam dan Al-Qur’an. Pendidikan agama yang sudah di tanamkan oleh orang tua dan kakak saya sejak masih kecil menjadi pedoman yang tidak ternilai dalam kehidupan saya dikemudian hari. Sejak kecil saya sudah di didik melaksanakan sholat 5 waktu, puasa dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan.

2. ALS Kotamobagu
Setelah pendudukan Jepang, arah pendidikan mulai lagi dengan mulai dibukanya Sekolah-sekolah Dasar, walaupun dalam beberapa hal masih terbatas. Sekolah yang dibuka antara lain ALS (Algemene Lagere School) di Kotamobagu, dan ada juga NS (Normal School) yang kemudian menjadi SGB (Sekolah Guru Bawah ). ALS ini seperti halnya HIS pada waktu yang lalu menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dan juga belum sepenuhnya terbuka untuk semua anak, artinya yang bersekolah di situ masih terbatas pada anak-anak keturunan raja/bangsawan, anak-anak para Jogugu dan Marsaole ataupun Panggulu dan Mayor Kadato. Anak sangadi dan anak anak-anak rakyat biasa belum dapat diterima di sekolah tersebut. Alhamdulillah, saya mempunyai seorang Paman (Saudara sepupu ayah saya) yang bernama Rubu’u Mokoginta, ia seorang Pegawai Pemerintah Kerajaan, yang pada waktu itu yang sangat peduli terhadap pendidikan anak-anak yang ingin bersekolah. Beliaulah yang memasukkan saya ke sekolah ALS tersebut, dan jasa beliau ini sangat menentukan keberlangsungan pendidikan saya selanjutnya, sebab jika tidak maka pendidikan saya hanya sampai tamat SD-2 tahun di Pontodon. Begitu besar perhatian Paman saya tersebut, sehingga pada waktu saya sudah selesai pendidikan Sarjana di Fakultas Sosial Politik UGM Yogyakarta, beliau masih meminta Skripsi saya tentang Pemerintahan Daerah di Kabupaten Sleman untuk dibaca, dan beliau merasa bangga atas karya ilmiah saya itu. Paman Rubu’u Mokoginta biasa kami panggil ’Papi Theo’. Saat beliau meninggal dunia, meninggalkan 1 orang isteri dan 6 orang anak. Sekarang anak-anaknya sudah bekerja baik sebagai PNS maupun swasta. Ada 3 orang yang melanjutkan studi sampai jenjang Pascasarjana (S2), yakni Gulimat Mokoginta di UGM Yogyakarta, adapun Ramjan Pearson (Icon) Mokoginta di Pascasarjana (S2) UNSRAT Manado, dan Muslim Patra Mokoginta di Pascasarjana (S2) ITS Surabaya.
Saya masuk ALS sekitar Tahun 1943 mulai dari kelas satu meskipun sudah tamat dari Sekolah Desa 2 tahun. Jarak antara Sekolah di Kotamobagu dan rumah di Bilalang ± 5 km yang harus ditempuh setiap hari dengan berjalan kaki. Beberapa waktu kemudian saya menggunakan sepeda dengan ban mati, artinya bukan di pompa tetapi hanya ban karet keseluruhan. Kalau ke Sekolah, saya tidak membawa bekal dan tidak mendapat uang jajan. Beruntung pada waktu itu di sepanjang pinggiran jalan antara Kotamobagu ke Bilalang, banyak ditanam pohon Langsat, pohon Kenari, dan pohon Asam Jawa, dimana bila musim buah, anak-anak bebas mengambil buahnya sekedar sebagai penawar haus. Tak jarang saya mampir ke Kak Ali yang saat itu bekerja di Kantor Perusahaan Garam di Kotamobagu dan minta uang jajan untuk dibelikan kue Cucur atau Halua yang dijual di pinggiran jalan Desa Biga, bila ada uang sisa, dibelikan Kalam/Gerep (sejenis alat untuk menulis ) yang ditulis pada batu tulis. Dalam pergaulan di Sekolah, saya berusaha menyesuaikan diri dengan teman-teman di kelas, tak jarang ada juga teman-teman wanita yang marah pada saya apabila tidak mau membantu mereka memberikan jawaban soal/pertanyaan saat ulangan / repetisi. Anak seorang Controleur / Kontrolir (semacam Pejabat Pengawas/ Inspektur) berkebangsaan Belanda, saat itu, setiap hari membagi roti bekalnya kepada saya. Saya sangat senang karena Roti yang berlapis selai atau coklat merupakan makanan mewah dan tidak ada di Desa pada waktu itu. Semua pelajaran dapat saya ikuti, dan yang sangat menarik bagi saya adalah mata pelajaran Ilmu Bumi (aardryks kunde). Apabila guru (Meneer) menerangkan tentang Negara dengan Kota-kota, Sungai-sungai, Gunung-gunung, dan Lautnya dengan menggunakan peta dunia, saya menyimaknya dengan penuh perhatian sambil membayangkan betapa bahagianya bila suatu hari kelak, saya dapat mengunjungi tempat-tempat tersebut. Seperti saya katakan sebelumnya bahwa bahasa pengantar pada ALS adalah bahasa Belanda, sehingga dengan sendirinya saya sebagai anak desa harus berupaya untuk dapat mengerti bahasa tersebut karena guru-guru memberi pelajaran dalam bahasa Belanda. Syukur alhamdulillah pada waktu itu ada seorang Kakak yang masih ada hubungan keluarga dengan ayah saya, yaitu Kakak Oemar Mokoginta yang sedang menuntut ilmu pada Sekolah Tehnik Tinggi di tanah Belanda dengan beasiswa dari ”Malino Beues” ( waktu itu masih ada negara Indonesia Timur /NIT). Selesai studi kak Oemar terus bekerja di sana dan bahkan kawin / menikah dengan wanita Belanda. Setelah pensiun beliau sering berlibur di Manado dan Kotamobagu. Dalam kujungannya yang terakhir, beliau meninggal dunia di Manado. Atas permintaan Isteri dan Anak-anaknya, jenazahnya dibawa ke Belanda, kemudian di kremasi dan abu jenazah diantar kembali oleh anak-anaknya, Layana dan Budi, untuk dimakamkan di pekuburan keluarga di Bilalang.
Karena ayah saya sangat menginginkan supaya saya dapat mengerti bahasa Belanda dan bercita-cita supaya dapat melanjutkan sekolah sesudah ALS, maka ayah memesan kamus bahasa Belanda. Setelah menerima kamus tersebut sebagai hadiah dari kak Oemar Mokoginta maka ayah mengharuskan saya menghafal kata-kata dalam kamus bahasa Belanda tersebut. Kedengarannya tidak mungkin tetapi begitulah kenyataanya, dan ini merupakan dorongan bagi saya untuk belajar, karenanya saya mempelajari kamus tersebut dengan sungguh-sungguh, sesuai kemampuan walaupun tidak dapat memenuhi keinginan ayah untuk menghafal seluruh isinya. Dan sebagai hasilnya, saya dapat lulus ujian masuk ke M.S (Middelbare school) di Tomohon, setelah lulus ALS pada tahun 1949. Semua soal ujian diberikan dalam bahasa Belanda dan jawabannya-pun harus dalam bahasa Belanda. Dari sekian banyak yang mengikuti ujian masuk, hanya kami berlima yaitu 4 orang perempuan dan saya sendiri yang lulus untuk meneruskan sekolah di Tomohon. Keempat perempuan tersebut ialah Juliana Tuela, Gaeda Damopolii, Claartje Senduk, dan Cinnie Tampemawa.

3. Masa Sekolah di Tomohon
a. M.S Tomohon
Seperti disinggung di bagian depan bahwa ayah kam sangat menginginkan dan bercita-cita agar anak-anaknya dapat mengikuti pendidikan mulai dari yang terendah sampai pada tingkatan yang tertingi untk menjadi bekal kehidupan di kemudian hari, walaupun keadaan ekonomi keluarga dapat dikatakan pas-pasan saja. Tetapi dengan tetap bertawakal dan mengharapkan ridho Allah SWT, keinginan dan cita-cita ini tetap diupayakan oleh ayah untuk mewujudkannya sekecil apapun hasil yang didapat. Kesembilan anak beliau yang hidup, mulai yang tertua yaitu kak Ali sampai pada adik-adiknya tetap diusahakan oleh ayah agar semuanya dapat mengikuti pendidikan secara formal. Namun disamping keterbatasan ekonomi keluarga, situasi dan kondisi pada waktu itu turut juga mempengaruhi. Kak Ali misalnya, dimana pada masa kecilnya hanya bisa masuk Sekolah Zending di Desa Popo, karena hanya sekolah itu yang ada pada masa itu. Pendidikan di situ berlangsung selama 3 tahun. Beruntung sesudah itu, di Kotamobagu dibuka HIS Swasta (Sumual), cabang dari Airmadidi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda, sehingga kak Ali bisa masuk kesekolah tersebut. Ia tidak bisa masuk HIS yang sudah ada karena anak rakyat biasa. Alhamdulillah dengan bekal-bekal di Sekolah zending dan Sekolah HIS swasta tersebut, kak Ali dapat diterima menjadi pegawai kantor Perusahaan Garam dan pernah juga bekerja pada kantor Koperasi di kotamobagu. Kemudian dengan tambahan kursus-kursus lainnya sehingga ia dapat menjadi PNS. Selanjutnya kak Toha (Ota), walaupun hanya sedikit tetapi dapat juga mengikuti pendidikan sebagai perawat dan sempat bekerja di Rumah Sakit sebelum dia meninggal dunia. Mengenai kak Josian, memang tidak dapat mengikuti pendidikan di Sekolah karena pada waktu itu tidak dimungkinkan. Demikian juga kak Djanah tidak dapat mengikuti pendidikan karena meninggal pada usia menjelang remaja. Sedangkan kak Naomi sempat mengikuti pendidikan sampai lulus SD, lalu keburu kawin/ berumah tangga. Saya sendiri dan adik Tilung sangat bersyukur kehadirat Allah SWT karena berkat dikabulkan-Nya doa ayah sehingga kami berdua berkesempatan mengikuti pendidikan mulai dari tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi, dan inilah yang menjadi keinginan ayah. Sedangkan adik Baria, sayang sekali, tidak sampai lulus SD, dan keburu berumah tangga. Adapun adik Suriah tidak dapat mengikuti pendidikan di Sekolah karena meninggal dunia dalam usia masih kanak-kanak.
Sejalan dengan cita-cita ayah tersebut di atas, maka setelah saya lulus ujian masuk MS (Middelbare School) di Tomohon ayah merasa sangat gembira. Kak Ali yang sangat mendukung cita-cita ayah, juga merasa sangat gembira. M.S.Tomohon (setingkat SMP) tepatnya berada di Desa Kaaten, bahasa pengantarnya adalah bahasa Belanda, dengan pendidikan selama 3 tahun. Guru-gurunya sebagian besar orang Belanda, hanya guru bahasa melayu dan guru olahraga yang orang Indonesia. Sekolah ini sebenarnya adalah kelanjutan dari Chr.MULO (Christelyke Meer Uitgebreid Lager Onderwys) sebelum pendudukan Jepang. Maka berangkatlah saya (waktu itu berusia ± 14 tahun) ke Tomohon untuk melanjutkan sekolah di MS di antar oleh kak Ali dan ditemani oleh Sdr Jafet Simbala yang pada waktu itu sudah bersekolah di NS (Normal School) atau Sekolah Guru, di Tomohon. Kami menumpang mobil bis, yang pada waktu itu merupakan alat angkutan umum dari Kotamobgu ke Manado melewati Tomohon ( jalan melalui Tanah Wangko belum ada ). Pemilik mobil sekaligus sopir ialah om Karim. Perjalanan kalau cuaca baik boleh dikatakan sehari penuh karena keadaan jalan dan jembatan belum seperti Sekarang. Terkadang harus melalui Sungai dan menggunakan Ponton seperti di sungai Poigar dan sungai Ranoyapo di Amurang. Saya diliputi rasa gembira dan was-was, karena ini merupakan pengalaman pertama bagi saya meninggalkan kampung halaman dan meninggalkan orang tua (Inde’ dan Apa).
Setibanya di Tomohon saya mondok (indekost) di rumahnya Zuster Sundah (seorang bekas Biarawati) yang menerima anak-anak sekolah mondok di rumahnya. Disamping mengurus anak “kost”, Zuster Sundah juga mempunyai warung dan pembakaran roti. Anak-anak yang kost di sini berasal dari Ambon dan Sangir Talaud, dan bersekolah di AMS (setingkat SMA). Diantara pelajar dari Bolaang Mongondow, seperti lain Zus Jua Mokodompit dan Zus Stien Kolintama, keduanya bersekolah di KS (Kweek School) atau setingkat Sekolah Guru Atas (SGA) di Tomohon. Juga ada kak Layana Mokoginta, yang masuk Sekolah Mode di Tomohon. Ada juga Samsyudin Datunsolang yang Sekolah di Frater Reaten. Dengan Muda Mokoginta, saya sering ketemu juga, ia sekolah dan tinggal di Asrama Frater, kemudian pindah sekolah di Don Bosco Manado. Kemudian datang juga Ladi dari Bilalang, Mokoginta (moko) Manangin (masih paman saya pihak ibu), dan Husain Sugeha. Mereka mengikuti kursus mortir mobil di Tomohon. Ada lagi para pelajar dari Tonsea. sehingga cukup banyak anak-anak yang mondok di rumahnya Zuster Sundah ini. Adapun Konda Mokodompit, saat itu sekolah juga di Tomohon, tetapi ia tinggal/kost di tempatnya Juffrow Ranti.
Yang menjadi masalah bagi saya dan teman-teman lain yang beragama Islam adalah masalah makanan. Untuk mencegah tercampurnya dengan makanan yang tidak halal, maka saya makan dengan lauk telur rebus atau ikan bakar, dan sayur rebus, dan tidak ada gorengan. Sebenarnya pemisahan lauk-pauk ini sudah diketahui juga ibu kost (kost baas), mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dimakan tetapi saya memilih lebih berhati-hati. Saat mondok di rumahnya Zuster Sundah, biasanya kami mandi di tempat mandi yang namanya Sinelean, letaknya tak jauh di depan rumah, hanya menyeberangi jalan dan sampailah di sebuah telaga/kolam. Di situ ada pancuran-pancuran air dari gunung yang sejuk dan dibuat pemisahan antara tempat mandi untuk laki-laki dan tempat mandi untuk perempuan, yang letaknya agak berjauhan. Di tempat mandi laki-laki banyak yang mandi beramai-ramai dan yaa.. secara bebas saja. Mungkin di tempat mandi untuk perempuan begitu juga.
Maka mulailah saya mengikuti pelajaran di MS Tomohon yang mempunyai dua jurusan yaitu Bagian A yakni Jurusan Bahasa, dan Bagian B yakni Jurusan Pasti Alam. Seperti yang telah disinggung di depan, bahwa ayah saya sangat gembira, karena saya lulus masuk MS Tomohon. Demkian juga kak Ali dan paman saya, Rubu’u Mokoginta (papi Theo/papi Gulam) Sangat mendukungnya. Papi Theo menyarankan kepada ayah dan kak Ali agar saya memilih Bagian B, agar saya dapat meneruskan ke Sekolah Dokter. Ayah dan kak Ali sepakat saja, sehingga saya memilih dan mengikuti pelajaran pada bagian B secara bersungguh-sungguh. Tetapi setelah lulus MS, dan akan meneruskan studi ke tingkat SMA, dengan terpaksa saya harus memilih bagian C yakni jurusan Ekonomi, karena angka ujian akhir di SMP untuk mata pelajaran Aljabar dan Ilmu Ukur berada di bawah standar.
MS Tomohon adalah sekolah Kristen sehingga semua murid termasuk saya harus mengikuti pelajaran agama Kristen disamping mata pelajaran lainnya. Kami mempelajari Kitab Injil perjanjian lama dan perjanjian baru serta menghafal lagu-lagu rohani dalam bahasa Belanda. Saya pernah juga sekali masuk Gereja Sion Tomohon. Pada umumnya saya dapat mengikuti semua mata pelajaran walaupum mula-mula agak kikuk dalam penggunaan Bahasa Belanda. Maklum anak Desa dan baru masuk Kota. Boleh dikata prestasi saya cukup memadai sehingga bila ada repetisi /ulangan, saya menjadi tempat bertanya beberapa teman sekelas antara lain teman-teman wanita, dengan di-iming-imingi permen atau coklat. Ada juga yang mencubit jika tidak memberikan jawaban soal. Namun seperti halnya dahulu di ALS, saya tidak bergeming karena takut ketahuan Guru dan bisa saja diusir keluar dari dalam Kelas. Pernah saya dimarahi Juffrow Trimp karena ketahuan, dan sesudahnya saya tidak berani lagi.
Kembali pada pelajaran Agama, setelah beberapa bulan mengikutinya, di lubuk hati saya merasa bahwa sejak kakak-kanak saya sudah mengamalkan ajaran agama Islam, maka saya pergi menghadapi Direktur/Kepala Sekolah, yaitu Meneer Van der Post, untuk minta izin pulang sekolah lebih awal pada hari Jumat agar dapat mengikuti Sholat Jumat di Masjid. Masjid di Tomohon pada waktu itu agak jauh dari Sekolah, berada di kampung Jawa, Sarongsong. Saya menghadap Direktur dengan menggunakan bahasa Belanda walaupun Belum cukup sempurna. Pada mulanya saya tidak diijinkan dengan alasan bahwa agama Islam juga meneruskan ajarannya Nabi Ibrahim sebagaimana agama Kristen mengenal Abraham, sehingga sama saja katanya, selain itu, ia khawatir nanti saya ketingalan pelajaran. Alhamdulillah, setelah saya dapat meyakinkan Pak Direktur bahwa walaupun agama Islam dan agama Kristen sama-sama mengenal ajaran Nabi Ibrahim (Abraham), namun pengamalan syariatnya berbeda, dan bahwa saya akan berusaha untuk tidak ketinggalan dalam pelajaran dengan meminjam catatan dari teman-teman, maka saya dapat diijinkan pulang lebih awal pada hari Jumat untuk dapat menunaikan Sholat Jum’at di Masjid.
Selama di MS Tomohon (juga selama di SMA), karena jarak tempat kost ke Sekolah di Kaaten agak jauh, maka saya dibelikan Ayah sebuah Sepeda merek Raleigh. Saya mempunyai teman-teman dekat di Sekolah antara lain Jon Kalesaran dari Woloan, dan seorang lagi dari Tondano. Mereka ini secara bergiliran meminjam sepeda saya. Mereka mengantar saya terlebih dahulu pulang, kemudian sepedanya mereka pakai ke Woloan atau ke Tondano bergiliran. Besok paginya saya dijemput lagi dan diantar ke Sekolah. Dengan sepeda ini pula bila hari libur, kami biasa ke Manado bergerombol dan kembali ke Tomohon dengan menumpang mobil bis, adapun sepedanya diangkut di atas dek mobil bis. Selain itu, saat libur saya juga sering ikut bersama teman-teman mendaki gunung Lokon, yang sesekali dipimpin oleh Guru kami, juga bertamasya ke Danau Linow dekat desa Leilem, dan ke Danau Tondano. Bila ada kesempatan memungkinkan, di waktu libur saya juga pulang liburan ke Kampung, sekalian ketemu Inde’ dan Apa. Pernah saya liburan di Kampung, kebetulan bertepatan musim penghujan, sehingga saat hendak kembali ke Tomohon, tidak bisa melalui jalan Inobonto-Poigar-Amurang karena banyak jembatan hanyut dan tanah longsor akibat banjir dan hujan deras. Terpaksa kami harus melalui jalan Insil-Wulurnaatus-Tompaso baru dengan menggunakan Kuda, karena keadaan jalannya cukup berat. Saya di antar kak Ali dan ditemani oleh Tamato dan Balansa (masih keluarga pihak Inde’), kami masing-masing menunggang Kuda. Kami berangkat pagi dari Bilalang dan mampir menginap di rumahnya Sangadi Insil (Makmur Mokoginta, sekarang dikenal dengan panggilan tete Rep). Besok harinya kami meneruskan perjalanan ke Tompaso Baru dan tiba sore hari. Saat itu, kebetulan menjelang malam hari ada mobil truk pengangkut kayu dari Tompaso Baru ke Manado lewat Tomohon, sehingga saya dapat menumpang mobil tersebut, sedangkan kak Ali, Tamato dan Balanza berkuda kembali ke Bilalang melewati jalan semula. Inilah suatu bukti bahwa Ayah dan ‘kak Ali Sangat memperhatikan kelanjutan sekolah saya. Pernah juga pada waktu liburan, saya bersama beberapa teman pulang dengan menumpang bis jurusan Tompaso –Langowan, rencananya melalui Tompaso Baru dan dari sana ke Kotamobagu. Pada waktu bis sudah masuk Langowan, sopir bertanya kemana tujuan kami, kami jawab ke Tompaso (maksudnya ke Tompaso Baru). Sang Sopir menjawab bahwa Tompaso sudah dilewati, kami sebut Tompaso Baru, dijawab lagi kalau ke Tompaso Baru harus lewat Amurang arah ke Motoling, kami baru sadar bahwa kami salah bis dan salah jurusan, sehingga kami harus kembali lagi ke Tomohon dengan bis yang sama, dan batal ke Kotamobagu. Di samping itu, saat sudah SMA, bila hendak pulang liburan, selain keadaan jalan/ jembatan yang belum memadai dan belum seperti sekarang ini, sering juga antara Poigar dan Amurang, ada gangguan dari PPK (Pasukan Pembela Keadilan ) dibawah pimpinan Jan Timbulung.
Selama bersekolah di MS Tomohon, dari kelas I sampai kelas III, bahasa pengantar kami adalah bahasa Belanda(1949-1950). Sejak kelas III (akhir tahun 1951), MS dilebur menjadi SMP, dan sudah menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar untuk belajar mengajar. Hal ini bertepatan saat NIT (Negara Indonesia Timur) sebagai Negara Bagian dari RIS (Republik Indonesia Serikat) sudah bergabung kembali dengan Negara Kesatuan RI di Yogyakarta.

3.b SMA Tomohon
Setelah menyelesaikan pelajaran dan lulus SMP, saya meneruskan sekolah di SMA negeri Tomohon tahun 1952. SMA Negeri Tomohon dahulunya adalah AMS (Algemere Middlebare School) yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Saat itu anak-anak dari Makasar, Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara Timur datang bersekolah di AMS Tomohon. Kak Oemar juga sebelum ke tanah Belanda, bersekolah disini. Di SMA Negeri Tomohon ada 2 jurusan, yaitu bagian B (Jurusan Ilmu Pasti Alam), dan bagian C (Jurusan Ekonomi). Walaupun di SMP saya masuk di bagian B (Pasti Alam), tetapi karena nilai ujian akhir untuk mata pelajaran Aljabar dan ilmu ukur di bawah standar, maka saat di SMA Negeri Tomohon saya harus masuk di bagian C (Jurusan Ekonomi). Sejatinya, Jurusan Ekonomi ini sangat sesuai bakat dan kemampuan saya, sehingga alhamdulillah prestasi belajar menjadi baik dan menonjol dengan predikat Juara I, sejak dari kelas I sampai kelas III. Bahkan saya lulus ujian akhir SMA pada tahun 1955 dengan predikat Terbaik (Juara Satu Umum). Waktu itu baru ada 2 SMA Negeri di Sulawesi Utara, yaitu di Tomohon dan di Manado. Teman-teman sekolah saya saat di SMA Negeri Tomohon sudah tersebar di seluruh Tanah Air. Ada yang meneruskan pelajaran di Perguruan Tinggi dan ada yang berkiprah di bidang swasta. Yang lainnya tetap berada di Manado dan sekitarnya. Ada seorang teman sekolah yang biasa kami panggil ”Potje” orang tuanya memiliki Pabrik Es d Tomohon. Ia adalah anak tunggal, sehingga penampilannya serba berkecukupan, termasuk kebiasaan merokok. Oleh karena itu bila ke sekolah setiap harinya ia membawa rokok bukan hanya 1 bungkus, akan tetapi 1 paket yang berisi 10 bungkus, saya termasuk yang mendapat pembagian rokok 1 bungkus setiap harinya dari teman ini. Saya sudah terbiasa merokok mulai kelas III SMP, dan nanti berhenti total pada tahun 1994, … cukup lama juga saya merokok.
Saat bersekolah di SMA, saya tidak mondok lagi di rumahnya Zuster Sundah karena tidak ada lagi yag ”inde kost” di sana. Yang sebelumnya pernah tinggal di sana, semuanya sudah selesai sekolahnya dan sudah pulang ke tempat asalnya masing-masing, atau meneruskan sekolahnya ke tempat lain. Saat kami tinggal di sana, ada seorang yang bernama Pieter Tumurang yang menganggap dirinya jagoan ala ”Cowboy from Tomohon”. Ia berjalan mondar mandir di kota Tomohon dengan senjata pistol di pinggang dan topi lebar, sering juga menunggang kuda. Ia juga tidak begitu perduli dengan Polisi atau Tentara. Pernah terjadi tembak menembak antara Pieter Tumurang dengan anggota-anggota kompi Lumanauw, persis di depan tempat pemondokan kami, sehingga kami sempat ketakutan. Ia suka mampir ke tempat kami dan mengambil apa-apa yang diperlukan di warungnya Zuster Sundah tanpa membayar. Istilahnya ”bon dulu”. Lama-kelamaan warung merugi, dan hal ini mempengaruhi keadaan keuangan pemilik. Zuster Sundah juga saat itu sibuk membantu kebutuhan logistik bagi ”Batalion 3 Mei” yang bermarkas di Tomohon dan beroperasi di Ambon untuk memberantas gerakan RMS (Republik Maluku Selatan). Ini juga antara lain yang menyebabkan Zuster Sundah tidak lagi mengurus anak-anak kost.
Sehubungan dengan hal di atas, saya akhirnya pindah ke rumah keluarga E.A Pioh (bekas Hukum Tua Desa Talete), tidak jauh dari rumahnya Zuster Sundah. Di sini ada juga anak-anak dari Sangir dan Tonsea. Cukup lama saya kost di situ sampai pada suatu hari ada seorang teman yang pergi nonton film di bioskop dan katanya dia akan makan di luar. Porsi makannya di kost katanya boleh saya makan. Memang pada malam itu saya sudah makan , tetapi maklumlah udara di Tomohon cukup dingin sehingga membuat kita cepat lapar lagi. Kebetulan ada tawaran dari teman tersebut, maka porsinya saya makan. Tiba-tiba dari dalam kamarnya ibu kost keluar dan menegur saya, ”kita kira Dullah so makang; kiapa ulang?”. Tegurannya membuat saya merasa malu, sehingga tidak pikir panjang lagi, besoknya saya pamit kepada ibu kost untuk pindah. Ibu kost agak kaget juga tetapi saya sudah langsung permisi.
Saya pindah kost di rumahnya keluarga Windah, persis di seberang jalan di depan rumah keluarga E.A.Pioh. Di sini saya tinggal beberapa bulan lamanya bersama teman-teman kost lainnya yang juga adalah siswa SMA ( waktu itu di samping SMA Negeri, ada juga SMA Kristen Tomohon ). Selama saya kost di rumahnya keluarga E.A.Pioh dan keluarga Windah, pada hari-hari tertentu kak Ali dengan mobil bis bernama IDAKOTA dari Kotamobagu ke Manado lewat Tomohon, persis melewati rumah kost saya. Kak Ali ikut sebagai ”Eigenaar”(pemilik) mobil bis tersebut. Setiap kali lewat saya mendapat kiriman berupa kue, kopi, dan makanan dari Inde’, juga dapat uang jajan dari kak Ali.
Sampai lulus SMA, saya masih dua kali pindah tempat pemondokan, diantaranya di rumahnya keluarga Somba (ibunya Kolonel Somba ), tetapi kami kami makan di rumah makannya Ibu Hawa Tente (rumah makan Islam). Di rumah keluarga somba ini saya tinggal bersama Ise Syahwin Pobela, Karmo Mooyoto, Parindo Mokoginta , Sadar Mokodongan, dan John P. Mokoginta, semuanya pelajar asal Bolaang Mongondow. Terkecuali John P. Mokoginta (biasa dipanggil Pension), keempat teman asal Bolaang Mongondow lainnya bersekolah di SGA Tomohon, sedangkan John P. Mokoginta adalah adik kelas saya di SMA. Di sana kami sering mendapat kiriman dari orang tua masing-masing dari kampung mulai dari kue, kopi, makanan, sampai dengan tembakau olahan yang diisi dalam bambu (”Potolo”) bersama daun sagu (Koito’)yang sudah dihaluskan / dikeringkan dan digulung sebagai pembungkus tembakau menjadi rokok.

4. Masa Kuliah di Perguruan Tinggi
Saya lulus ujian akhir SMA pada akhir tahun 1955, lalu mencari informasi mengenai Perguruan Tinggi yang akan dimasuki untuk melanjutkan pendidikan. Ayah dan kak Ali tetap menganjurkan dan mendukung saya untuk melanjutkan studi di Perguruan Tinggi. Sebelum mengajukan lamaran ke Perguruan Tinggi yag di kehendaki, saya dibawa oleh paman Rubu’u Mokoginta menemui Bapak F.P.Mokodompit, seorang Patih – Diperbantukan di Kantor Bupati Bolaang Mongondow, yang berada di Kotamobagu. Sebelumnya beliau adalah Kepala Daerah Bolang Mongondow saat masih bergabung dengan Gorontalo dan Buol /Toli-toli (Daerah Sulawesi Utara). Saat bertemu beliau, saya ditanya kemana akan melanjutkan studi. Saya menjawab akan melanjutkan ke Jurusan Pemerintahan, saya ditanya lagi mengapa mengambil Jurusan Pemerintahan, sebab profesi itu akan sering mendapat banyak kritikan, sorotan, bahkan cacian dari masyarakat. Kata-kata beliau ini menjadi perhatian saya, dan siapa menyangka di kemudian hari Bapak F.P.Mokodompit mejadi Bapak Mertua saya.
Setelah memperoleh informasi mengenai Perguruan Tinggi yang akan dimasuki , saya mengirim lamaran tertulis disertai hasil ujian saat SMA sebagai lampiran ke Akademi Pos di Bandung, Akademi Dinas Luar Negeri di Jakarta, dan Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Selang beberapa waktu menunggu, secara bergatian saya menerima jawaban dari ketiga lembaga pendidikan yang saya lamar tersebut, bahwa saya di terima. Pada waktu itu belum ada tes masuk seperti sekarang, tetapi pada akhirnya saya memilih masuk Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta, dan berangkat ke sana dengan menumpang kapal laut bernama ”Zwartenhond”, yang berangkat dari pelabuhan Manado menuju Surabaya, dari Surabaya perjalanan dilanjutkan dengan Kereta Api ke Yogyakarta. Saya bersama teman dari Bilalang yaitu Uku Pobela (saudara kembar dari Ise Syahwin Pobela), yang akan meneruskan pendidikan pada Sekolah Tehnik di Semarang. Di Yogya kami akan dijemput oleh kak Kui Mokoginta (adiknya kak Oemar di tanah Belanda), ia seorang Pegawai Dinas Pekerjaan Umum Bolaang Mongondow yang sedang mengikuti kursus di Yogyakarta. Setibanya di Stasiun Tugu, kami turun dari kereta api tetapi tidak melihat kak Kui’ yang akan menjemput. Rupanya ia menunggu di pintu keluar. Sementara itu banyak yang menawrkan diri untuk mengantarkan kami ke penginapan, kami tertarik, dan 2 orang di antara mereka sudah mengangkat koper pakaian kami yang terbuat dari bahan kayu ”bantal” dan mengajak kami cepat-cepat ke penginapan. Kami dibawa keluar melalui pintu pagar samping stasiun, dan tak jauh dari sana sudah akan tiba di penginapan, jadi kami tidak keluar dari pintu keluar di depan (seandainya keluar dari pintu depan pasti ketemu kak Kui’). Setelah memberikan upah kepada orang-orang yang mengantarkan kami ke penginapan yang terletak di Jl. Pasar Kembang dan istirahat sejenak, kami bersama pergi ke asrama kak Kui di Jl. Gandomanan, setiba kami di sana ’kak Kui yang juga baru tiba dari stasiun kaget melihat kami, dan menanyakan mana barang-barang kami, kami jawab ada di penginapan di Jl. Pasar kembang, ”Astaga”.. kata kak Kui, ’itu tempat lokalisasi PSK’ (Pekerja Seks Komersial), ’kami sama sekali tidak tahu’, ujar kami. ’Ayo’ kata kak Kui’, ’kita segera ke sana mengambil barang-barangnya’, setelah agak lama mencari rumah penginapan tersebut (karena agak berdekatan satu dengan yang lainnya), akhirnya ditemukan juga. Segera kami mengambil koper pakaian dan barang-barang lainnya dan mengatakan kepada penjaga penginapan bahwa kami tidak jadi menginap di situ. Kami kemudian dibawa kak Kui’ ke suatu tempat kost di pinggiran kota Yogya, kami tinggal beberapa waktu lamanya di tempat itu, kemudian saudara Uku melanjutkan perjalanan ke Semarang, dan saya pindah ke tempat kost yang lain.
Di UGM Yogyakarta waktu itu, ada Fakultas HESP( Hukum,Ekonomi,Sosial Politik) yang merupakan fakultas gabungan dari ketiga jurusan tersebut. Nanti kemudian baru di pisah jadi 3 fakultas sendiri-sendiri. Tempat perkuliahannya di Sitti Hinggil yang berada di Kompleks Keraton Sultan Yogya. Kompleks Bulak Sumur waktu itu baru ada Gedung Rektorat dan gedung kuliah untuk beberapa fakultas saja. Saya mendaftar pada jurusan Ekonomi, saat mulai kuliah tahun pertama saya sudah bebas untuk 2 mata pelajaran, yaitu Ekonomi dan Memegang Buku, artinya, saya tidak lagi menempuh ujian karena nilai ujian akhir SMA untuk 2 mata pelajaran tersebut sudah cukup tinggi dan memenuhi syarat. Untuk biaya kuliah dan biaya hidup, ayah saya mengirimnya secara akreditif lewat BRI sehingga setiap awal bulan saya sudah dapat mengambil uang di BRI Yogya, namun demikian, yang selalu menjadi pemikiran saya adalah bagaimana cara memperolah beasiswa dari Pemerintah, mengingat keterbatasan ayah dalam membiayai perkuliahan saya berikutnya. Kebetulan waktu itu saya membaca edaran/ pengumuman bahwa pada Fakultas Sosial Politik , Jurusan Pemerintahan UGM, terbuka kesempatan bagi mahasiswa yang berminat untuk memperoleh beasiswa sebagai mahasiswa ikatan dinas dari Departemen Dalam Negeri. Saya pikir inilah kesempatan yang harus saya gunakan, maka pergilah saya untuk mendaftarkan diri (Kantornya di Jl. Melati), dan pindah kuliah dari Fakultas Ekonomi ke Fakultas Sosial Politik, Jurusan Pemerintahan. Di Jl. Melati tersedia juga asrama bagi mahasiswa ikatan dinasnya. Setelah saya sudah menjadi Mahasiswa Ikatan Dinas Departemen Dalam Negeri, ternyata bukan hanya Fakultas Sosial Politik Jurusan Pemerintahan saja yang dapat memperoleh beasiswa, tetapi pada Fakultas-fakultas lain juga (termasuk Fakultas Ekonomi), dapat memperoleh beasiswa dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Apa boleh buat.., saya sudah mengambil keputusan untuk menjadi Mahasiswa Ikatan Dinas dari Departemen Dalam negeri, saya teringat kembali pada kata-kata bapak F.P. Mokodompit waktu saya menemui beliau di Kotamobagu sebelum ke Yogya…
Kota Yogya dikenal sebagai ’Kota Pelajar/Mahasiswa’, dan juga ’Kota Sepeda’, karena kendaraan yang digunakan ke Sekolah dan ke tempat Kuliah saat itu pada umumnya adalah Sepeda. Pada tahun 1957, setelah 2 tahun kuliah, saya lulus tingkat Propodeus dan berkesempatan pulang ke Kotamobagu sebelum terjadinya pergolakan Permesta. Tidak lama di sana saya pulang kembali ke Yogya, ikut bersama saya saudara sepupu saya Sai’un Mokoginta dan Hadin Mokoginta untuk Sekolah di Yogya. Pada saat kami naik kapal di pelabuhan Manado, kami bertemu dengan Jambat Damopolii yang akan ke Jakarta. Dia sudah tammat SMA di Jakarta dan masih pikir-pikir akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang mana. Di atas kapal laut, kami cerita-cerita dan saya tawarkan bagaimana kalau melanjutkan saja di UGM Yogya, rupanya ia tertarik, dan minta tolong saya untuk mendaftarkannya pada Fakultas Sosial Politik UGM, ia akhirnya menjadi Sarjana di sana. Adapun saudara sepupu saya Sai’un sangat disayangkan tidak berhasil menyelesaikan sekolahnya, yang kemudian pulang kampung. Sedangkan Hadin, berhasil menyelesaikan pelajaranya di SMA dan melanjutkan kuliah di IKIP Yogya hingga meraih Sarjana. Di kemudian hari, ia menjadi PNS di Kantor Gubernur Sulawesi Utara, dan terakhir sebagai Direktur SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) Manado.
Ketika saya lulus ujian Sarjana Muda (Barchelor Of Arts atau BA) tahun 1958, maka sebagi mahasiswa Ikatan Dinas yang telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Departemen Dalam Negeri, saya pulang bekerja selama 2 tahun di daerah, mula-mula ditempatkan di Gorontalo dan kemudian di Kotamobagu (Bolaang Mongondow). Selesai tugas saya kembali ke Yogya pada tahun 1960 untuk menyelesaikan kuliah tingkat doktoral (saat itu setingkat S1) dan berhasil meraih gelar Sarjana pada tahun 1962. Salah seorang dosen luar biasa yang saya kagumi pada waktu itu melanjutkan kuliah tingkat doktoral adalah Bapak Muhamad Hatta, salah seorang Proklamator kemerdekaan dan mantan Wakil Presiden RI, yang memberikan kuliah dalam mata pelajaran Ilmu Politik. Beliau sangat disiplin dan menghargai waktu, bahkan selalu hadir paling lambat 5 menit sebelum waktu kuliah dimulai. Saya merasa banyak hal yang dapat dipelajari dari beliau selain ilmu dan teori-teori politik, seperti halnya menghargai waktu, penampilannya yang sederhana tapi rapih, serta tutur kata beliau yang terdidik baik dan santun. Saya bersyukur dan merasa bangga sempat mendapat pendidikan dari salah seorang Proklamator Kemerdekaan RI yang memiliki prinsip, berpandangan jauh, dan bersahaja itu.
Waktu kembali mengikuti kuliah tingkat doktoral (tingkat Sarjana), saya tinggal di Asrama KDN di Jl. Melati 7 Yogyakarta. Pada waktu mulai kuliah dahulu sampai tingkat Baccaleuret/Sarjana Muda, saya masih berpindah-pindah tempat kost, terakhir di asrama Bogani Bolaang Mongondow. Sejak saya bersama Uku Pobela keluar dari rumah kost di salah satu tempat dipinggiran kota Yogya saat tiba pertama kali, saya pindah kost ke rumahnya keluarga Muke (asal Malalayang-Manado) di Jl. Bintaran Tengah. Di sana saya tinggal bersama Mahasiswa asal Mando dan Ambon, setelah itu pindah lagi ke Asrama Maesa di Jl. Wiragunan, di sana tinggal bersama mahasiswa dari Minahasa dan Sangir, Mahasiswa dari Bolaang Mongondow adalah saya sendiri, bersama Sanusi Mokodongan. Selanjutnya saya pindah ke Asrama Pelajar/Mahasiswa Bolaang Mongodow (Asrama Bogani) di Jl. Ngadisuryan. Asrama ini dibeli oleh Pemda Bolaang Mongondow yang diwakili saat itu oleh Bapak A.H. manoppo (Abo Ali), dan Bapak B.I.N. Lobud (Om Bose), dari seorang yang mengaku sebagai kuasa pemilik rumah. Yang sempat tinggal di sana selain saya, yaitu Jambat Damopolii, Sanusi Mokodongan, Wahab Bumulo, Medan Pontoh, Hadin Mokoginta, Saiun Mokoginta dan ‘kak Kui’ Mokoginta sekeluarga (waktu itu anaknya baru Yaya). Di Asrama inilah kami membentuk Organisasi Pelajar/Mahasiswa asal Bolaang Mongondow yang dinamakan ‘Keluarga Pelajar/Mahasiswa BOGANI Bolaang Mongondow di Yogyakarta’. Organisasi ini pula yang menjadi cikal-bakal Keluarga Pelajar Indonesia Bolaang Mongondow (KPMIBM) yang saat ini memiliki cabang di berbagai Kota di Indonesia, yang berpusat di Kotamobagu. Ternyata kemudian bahwa Asrama di Jl. Ngadisuryan bermasalah karena orang yang menjualnya kepada Pemda Bolaang Mongondow yang waktu itu mengaku sebagia kuasa pemilik, menjual kembali rumah tersebut kepada Bapak Purwadarminta yang terkenal sebagai penyusun Kamus Bahasa Indonesia. Bapak Purwadarminta mempunyai surat-surat kepemilikan yang lengkap, sedangkan pihak Pemda Bolaang Mongondow sebagai pembeli sebelumnya, surat-suratan yang dimiliki kurang lengkap. Namun demikian, penghuni Asrama tetap bertahan, dan tidak mau keluar, sampai akhirnya Bapak Purwadarminta memberikan uang kunci /ganti rugi kepada Pemda Bolaang Mongondow. Dengan uang tersebut, dibeli lagi sebagian Rumah Blok bekas tinggalnya orang Belanda yang terletak di Jl. Leodokratmakan. Rumah inilah yang dijadikan Asrama Bogani, dan sebagian lagi ditempati oleh keluarga Lamakarate dari Palu. Di Asrama ini sudah lebih banyak Pelajar/Mahasiswa asal Bolaang Mongondow. Mereka diantaranya adalah Jambat Damopolii, Muda Mokoginta, Sanusi Mokoginta, Jusuf mamonto, Ama Korompot, A.K Lapadengan, Samsyudin Paputungan, Idhar Mokoginta, Dahlan Mokoginta, Hadin Mokoginta, Suwarto Pobela, dan Saiun Mokoginta. Beberapa dari alumni Asrama Bogani ini setelah menjadi Sarjana di UGM, sempat menjadi Bupati di Bolaang Mongondow seperti J.A Damopolii (2 periode), Samsyudin Paputungan dan Muda Mokoginta. Yang lainnya menjadi Sekretaris Daerah seperti Ama Korompot dan Pejabat Pemerintahan, seperti A.K. Lapadengan (di Kantor Gubernur Sulut ) dan Jusuf Mamonto (di Kantor Bupati Bolaang Mongondow), Idhar Mokoginta di Lembaga Pengadilan, dan Sanusi Mokoginta di Kepolisian (pernah menjabat Kapolres Sangihe Talaud).
Asrama Bogani ini Sekarang sudah cukup representatif karena sudah dilakukan perbaikan/renovasi sewaktu Drs. H. Muda Mokoginta menjabat Bupati Bolaang Mongondow. Sewakru di Asrama, kami masing-masing mengatur waktu dan tata cara belajarnya. Kalau saya, waktu dan tata cara belajar diatur sebagai berikut: pagi sampai siang/sore mengikuti Kuliah, menjelang malam menonton Film di Bioskop, sepulangnya main Biola duhulu, kemudian sesudah itu Belajar. Pembagian waktu ini diselingi dengan waktu makan dan waktu sholat. Saya membeli biola bekas, dan saya bisa memainkannya karena dahulu sewaktu sekolah di MS Tomohon kami mendapat pelajaran musik /Biola.
Waktu saya kembali ke Yogya untuk melanjutkan kuliah tingkat doktoral (Sarjana), boleh dikata tidak ada masalah dalam pembiayaan karena sebagai PNS saya sudah menerima gaji, hanya dahulu waktu mulai kuliah sampai tingkat sarjana muda (BA), masalah biaya kuliah dan biaya hidup Sangat terasa, terlebih saat pergolakan Permesta tahun 1957, kami mengalami kesulitan karena putus hubungan dengan daerah yang menyebabkan terhentinya pengiriman biaya dari orang tua. Pada masa itu bersama teman-teman yakni J.A. Damopolii, Sanusi Mokoginta, Gadin Mokoginta, Medan Pontoh, dan Sain Mokoginta, kami sempat menghadap Bapak Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk memohon bantuan biaya hidup bagi Pelajar/Mahasiswa Bolaang Mongondow yang sedang belajar/kuliah di Yogya. Alhamdulillah walaupun hanya sekedarnya, Bapak Sri Sultan mengabulkan permohonan kami. Saya sendiri bersyukur karena pada waktu itu sudah memperoleh beasiswa setiap bulannya sehingga sudah mengurangi beban orang tua. Beasiswa saya terima sebesar Rp 350,- (tiga ratus lima puluh rupiah) tiap bulan, itu sudah cukup untuk biaya hidup dan biaya kuliah. Terkadang pada awal bulan setelah menerima beasiswa, saya masih sempat mengajak teman-teman untuk jajan. Suatu saat, bersama teman-teman, kami jajan di warung dekat asrama yang berjualan jajanan sederhana seperti pisang goreng, tahu, tempe, dan lain-lain. Setelah selesai makan, ditanyakan kepada masing-masing teman, berapa yang dia makan. Ada yang mengatakan hanya 1 potong, ada yang 2 potong, padahal yang dimakan lebih dari itu, bahkan yang di atas piring sudah habis, namun demikian yang punya warung hanya senyum-senyum saja dan mengatakan “yo uwes” (ya sudah). Mereka nampaknya maklum bahwa kami berasal dari daerah yang mengalami putus hubungan.

Kehidupan Berumah-tangga

Setelah saya menyelesaikan kuliah dan meraih gelar Sarjana Muda (Bachelor of Arts – BA) pada tahun 1958, saya ditempatkan pada Kantor Residen Koordinator Sulawesi Utara di Gorontalo. Disamping bekerja sebagai pegawai, saya juga mengajar pada sore hari di SMA Negeri Gorontalo sebagai guru tidak tetap. Saat itu daerah Bolaang Mongondow masih diduduki Permesta, sehingga dibentuk perwakilan Pemerintahan Bolaang Mongondow di Gorontalo dan saya ditugaskan sebagai Kepala Perwakilan oleh Reskor (Residen Koordinator) Sulawesi Utara yaitu Residen Nani Wartabone. Pada tahun 1959, Daerah Bolaang Mongondow dibebaskan oleh TNI dari Permesta, dan saya bersama beberapa orang pegawai berangkat menuju Kotamobagu untuk suatu tugas kedinasan. Di antara petugas yang ikut bersama saya adalah Ajali Mokoginta, pegawai Kantor Kehutanan di kewedanan Kaidipang / Boroko. Setibanya di Kotamobagu setelah urusan kedinasan, saya mengunjungi orang tua saya di desa Bilalang, tetapi masih mampir di rumah seorang keluarga di desa Sampana, di rumah tersebut tinggal juga keluarga Bapak F.P.Mokodompit yang masih mengungsi, karena rumah mereka di desa Biga sempat dibakar oleh Permesta. Di sinilah Ajali Mokoginta mengatakan kepada saya bahwa Bapak F.P. Mokodompit mempunyai seorang anak Gadis Manis bernama Oeke Mokodompit, yang kelak menjadi isteri tercinta dan ibu dari anak-anak saya. Ajali mokoginta mengenal keluarga ini karena dia pernah tinggal di rumah mereka (keponakan dari ibunya Oeke). Saat itu saya Belum bertemu langsung dengan Oeke. Nanti ketika saya kembali untuk bekerja di Kotamobagu baru saya sempat melihatnya dan saya langsung merasa tertarik padanya. Rupanya inilah yang dikatakan orang “Love at the first sight” atau cinta pada pandangan pertama.
Sesudah beberapa hari bertugas di Kotamobagu, saya kembali ke Gorontalo dan tidak lama kemudian saya ke Kotamobagu lagi karena sudah ditempatkan di Kantor Kepala Daerah Bolaang Mongondow. Selama saya ditempatkan di Kotamobagu (tahun 1959), saya mulai mempererat perkenalan/hubungan saya dengan Oeke. Selain bertamu di rumahnya, saya selingi juga dengan mengirim surat. Alhamdulillah saya mendapat sambutan baik dari Oeke dan kedua orang tuanya. Ayah Oeke adalah orang tua yang Sangat bijaksana, ketika saya bertamu, dan dipanggil oleh beliau untuk duduk bersama, beliau berujar “saya hanya ingin mengatakan bahwa Oeke itu masih muda, jadi pikir baik-baik agar tidak kecewa di kemudian hari” tetapi karena hati sudah jatuh cinta, saya tidak berdaya. Hubungan kami selanjutnya berlangsung dari jarak jauh , karena pada tahun 1960 setelah bertugas di Kotamobagu saya harus kembali ke Yogya untuk menyelesaikan kuliah tingkat Doktoral (sarjana) di Fakultas Sosial Politik UGM, sedangkan Oeke melanjutkan sekolahnya di Malang.
Ayah Oeke bernama Frans Papunduke Mokodompit dan ibunya bernama Anna Andeo Mokoginta. Di kalangan keluarga maupun sahabat dan kenalan di Bolaang Mongondow, ayah dan ibunya Oeke biasa di panggil ”Papi Ao” dan ”Mami Ao”. Karena ayah dari Bapak F.P. Mokodompit (Abo’ Lamoyon Mokodompit) adalah kepala Distrik (Panggulu) , demikian juga ayah dari Ibu Anna Andeo Mokoginta (Abo’ W.P. Mokoginta) adalah kepala Distrik (Panggulu), maka keduanya sebagai anak Panggulu dapat mengikuti pendidikan yang baik. Bapak F.P.Mokodompit (Papi Ao) dapat bersekolah di HIS Kotamobagu, MULO (Meer Uitjebreid Lager Onderwys) Tondano, kemudian sampai OSVIA di Makasar (sebuah Sekolah untuk calon Pamong Praja). Dalam karier sebagai Pamong Praja beliau pernah menjadi Jaksa di Donggala (saat itu tugas Jaksa dan Polisi masih di bawah lingkungan Kementrian Dalam Negeri), kemudian menjabat Mayor Kadato (Camat) di Kotabunan, menjadi Panggulu di Bolaang, dan akhirnya sebagai Kepala Daerah Bolaang Mongondow. Sebelum pensiun, beliau pernah juga menjabat sebagai Sekretaris Residen Manado (masa Residen Tangkilisan, meliputi wilayah Sulawesi Utara Tengah), sebagai Sekretaris Panca Tunggal Sulutteng (sekarang Muspida), sebagai Pjs Sekretaris Gubernur Sulawesi Utara Tengah, dan sebagai salah satu Kepala Biro Kantor Gubernur Sulutteng di Manado. Beliau meninggal dunia pada tahun 1994 dalam usia 84 tahun. Saat itu kami di Jakarta karena saya menjadi anggota DPR-RI. Isteri saya dan anak-anak lainnya yang ada di Jakarta pulang lebih dahulu waktu beliau masih sakit. Saya pulang pada hari beliau meninggal dunia dan setibanya di Kotamobagu, beliau sudah dimakamkan. Ibu Anna Andeo Mokoginta (Mami Ao) bersekolah di HIS Kotamobagu, kemudian melanjutkan di sekolah PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurun) di Manado. Sekolah ini didirikan oleh Ibu Maria Walanda Maramis (Pahlawan Nasional) untuk mendidik para wanita agar terampil dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak. Beliau sangat ketat mendidik anak-anaknya khususnya anak perempuan. Beliau meninggal dunia pada tahun 1988 dalam usia 74 tahun, kami semua membawa jenazah beliau ke Kotamobagu dan dimakamkan di samping makam suaminya/ayah mertua saya, di desa Pontodon, saat itu saya menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Utara.
Oeke adalah anak ke-3 dari 7 (tujuh) orang bersaudara. Kakaknya laki-laki yang tertua bernama H.Lao Mokodompit, pernah bekerja di Perusahaan Pelayaran PT. Jakarta Lloyd, dan di suatu perusahaan lainnya. Beliau sudah meninggal dunia, isterinya bernama Hj. Yeni Mokoginta kini tinggal bersama anak-anak dan cucu-cucunya di Jakarta. Anak mereka ialah Hassan Mokodompit (laki-laki) dan Nurliana Dewi Mokodompit (perempuan). Kakak laki-laki yang kedua bernama Adnan Basirudin Mokodompit, seorang Insinyur Teknik Mesin ITB, ia menikah dengan Endang Utari, seorang Insinyur Teknik Elektro ITB (saat ini sebagai Pengusaha), anaknya Bapak Let.Jen.(Purn) dr. Ibnu Sutowo, mantan Direktur Utama Pertamina. Adnan dan Endang bertemu di Bandung waktu sama-sama kuliah. Mereka berusaha di bidang swasta. Kini mereka tinggal di Jakarta bersama anak dan cucunya. Seorang anak perempuannya yang bernama Saliana menikah dengan warga negara Amerika dan tinggal di sana, sedangkan anak laki-laki mereka (yang sulung) bernama Prastowo.
Berikut ini, adik perempuan dari Oeke (anak ke-4) bernama Olly Mokodompit, menikah dengan Johannis Marendes, keduanya sudah meninggal dunia, sedangkan 2 anak mereka sudah berkeluarga, yang seorang tinggal di Gorontalo (Rellya) dan yang seorang lagi (Achmad) di Jakarta, bersama anak-anak mereka.
Adik perempuan Oeke, Ratna Mokodompit SE (anak ke-5) kini tinggal di Kotamonagu bersama adik laki-laki yang bungsu bernama Goni Mokodompit – seorang anak Mongoloid dan menyandang ”retarded”, suatu keadaan di mana otak tidak berkembang optimal sehingga tingkah lakunya tetap seperti anak-anak.
Terakhir adik perempuan (anak ke-6) bernama Saena Mokodompit adalah seorang Dokter Umum yang menikah dengan Prayitno, seorang Perwira Tinggi TNI-AU (kini sudah Purnawirawan) dengan pangkat akhir Laksamana Madya, pernah bertugas di Australia sebagai Pembantu Atase Pertahanan, dan di New Zealand sebagai Atase Pertahanan (ATHAN), jabatan terakhirnya sebelum purnatugas adalah sebagai Asisten PAM-KASAU, sekarang ini menjalani masa pensiun di Jakarta bersama anak-anak mereka. Anakanak mereka dua-duanya perempuan, yang sulung bernama Dian Pratiwi Mahardika, seorang Dokter Umum lulusan Univ. Trisakti Jakarta, dan adiknya bernama Tiana, mahasiswa Fak.Hukum UI.
Setelah lulus SMP Kotamobagu, Oeke diantar oleh ayah dan ibunya ke Malang untuk melanjutkan ke Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) yang kemudian berubah menjadi Sekolah Kesejahteraan Keluarga (SKKA) Santa Anna. Mereka menumpang kapal ” Jaya Pratama” yang memuat kopra dari pelabuhan Lolak menuju pelabuhan Bitung, terus ke Makasar, dan akhirnya turun di pelabuhan Cilacap Jawa Tengah. Dari Cilacap mampir di Jogja dan menginap di Asrama Bogani – Ledokratmakan. Beberapa hari kemudian menuju ke Surabaya dan dari sana ke Malang. Ikut bersama mereka ialah Muda Mokoginta (adiknya mami Ao), yang akan meneruskan kuliah di Fakultas Ekonomi UGM (menjabat Bupati Bolaang Mongondow periode 1996-2001). Selain itu ada Ing dan Eno Mokoginta. Ing sekarang bergelar Prof. Dr. dan menjadi Dosen di IPB Bogor. Kakak laki-laki dari Oeke yaitu Adnan Basirudin Mokodompit sudah lebih dahulu berada di Malang dan bersekolah di SMA Saint Albertus serta tinggal di Asrama sekolah itu juga. Bapak F.P. Mokodompit sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya, sehingga walaupun keadaan perhubungan masih sulit, beliau mengantar sendiri anak-anaknya untuk masuk sekolah yang baik di Jawa.
Oeke di Malang, tinggal di Asrama Putri yang berada satu kompleks dengan sekolah TK, SD, SKP, SMP, SKKA dan SMA. Asrama dan sekolah-sekolah itu dikelola dan diasuh oleh para Biarawati Orde Santa Ursula dengan sangat ketat dan disiplin. Suatu kebiasaan di asrama ialah pada tiap hari selasa malam, anak-anak mendapat pendidikan budi pekerti yang mereka sebut ”kuliah”. Moeder (panggilan untuk Ibu Kepala Asrama ) ,Alexandrine, memberikan pelajaran tentang sopan santun,bagaimana sepatutnya perilaku seorang wanita, cara bertutur kata yang baik dan sopan, bagaimana menghormati orang tua dan orang yang lebih tua, saling menghormati sesama, melindungi dan menyayangi yang lebih muda. Walaupun anak-anak sudah keluar asrama, Moeder Alexandrine masih tetap berkomunikasi dengan bekas anak-anak asrama lewat surat menyurat. Akhirnya beliau kembali ke negeri Belanda dan menghabiskan sisa hidupnya di Biara sampai meninggal dunia.
Pertama kali saya dari Yogya mengunjungi Oeke di Malang, masih bersama pamannya, Muda Mokoginta. Saya harus mengaku sebagai pamannya Oeke juga karena Kepala Asrama tidak mengizinkan anak-anak asrama menerima tamu laki-laki yang bukan keluarga. Pernah saya datang berkunjung bersama teman saya, Endang Gandana, dan karena saya sudah dikenal sebagai pamannya Oeke, maka Oeke bersama Yoko Manoppo (temannya Oeke asal Bolaang Mongondow juga ) diizinkan keluar bersama kami jalan-jalan di Jl. Kayutangan. Waktu saya sudah selesai kuliah tingkat doktoral dan bergelar Doctorandus (Drs), saya datang lagi mengunjungi Oeke di Malang, dan menginap di rumah keluarga Gerard Mokoagow (kak Gonta). Kak Gonta sedang kuliah di APDN Malang, dan ketika saya menginap di rumahnya ia memberitahu kepada tetangganya bahwa ada tamunya yang bergelar Drs. Kebetulan di rumah tetangga ada orang sakit dan mengira saya seorang dokter, mereka lalu datang minta tolong melalui kak Gonta, kiranya saya (disebut pak dokter) dapat memeriksa/ mengobati orang yang sakit, untunglah kak Gonta tidak kehilangan akal dan mengatakan ”waduh minta maaf pak dokter tidak membawa peralatannya..”
Oeke bersekolah di Malang hanya selama 2 tahun, kemudian menyelesaikan Sekolahnya di SKKA Negeri Tondano, dan tinggal di rumahnya keluarga Manus-Singkoh di Kelurahan Tounkoramber. Pada waktu itu saya telah bekeja di Kantor Gubernur Sulutteng di Manado, dan saya sering kali mengunjunginya di Tondano. Pernah suatu waktu selesai liburan di Kotamobagu, Oeke akan pulang ke Tondano, bertepatan pada waktu itu ada rombongan Gubernur Sulutteng, Bapak F.J. Tumbelaka, yang mengadakan peninjauan kedatangan transmigran asal Bali di Inobonto dengan menggunakan mobil bis yang disewa dari Manado. Saya ikut serta dalam rombongan tersebut, dengan persetujuan Bapak Gubernur Tumbelaka, saya mengajak Oeke ikut bersama rombongan pulang ke Manado. Bupati Bolaang Mongondow waktu itu ialah Bapak Daan L. Olii. Saat menunggu rombongan berangkat, di sebuah rumah makan di Inobonto, pak Bupati mendekati saya sambil berkata ”bukan main ngana Dullah, om Frans (panggilan mereka untuk Bapak F.P. Mokodompit) so siapkan ngana pe calon isteri”. Pak Gubernur Tumbelaka yang mendengar ucapan itu, turut pula tertawa.
Akhirnya pada tahun 1964, setelah berpacaran ± 5 tahun, Saya dan Oeke menikah di Kotamobagu. Di saat itu Oeke berumur 19 tahun, terpaut / berbeda 10 tahun dengan saya yang berumur 29 tahun. Akad nikah dilaksanakan pada tanggal 9 juli bertempat di rumah mempelai perempuan dan resepsinya pada tanggal 11 juli juga di rumah mempelai perempuan. Suatu perhelatan yang cukup besar pada waktu itu, dan berlangsung beberapa hari karena dengan upacara adat yang lengkap, dimulai dari adat ”moguman” (melamar), ”moyosingog kong adat” (pembicaraan para pemangku adat), ”mogukat kon tali” (menghantar harta), ”mogatod kon nonikaan” ( menghantar pengantin laki-laki ke rumah pengantin perempuan), dan diakhiri dengan ”mogama” (menjemput pengantin perempuan ke rumah pengantin laki-laki). Pada saat menghantar mempelai laki-laki ke rumah mempelai perempuan, saya harus berjalan kaki dari Bilalang ke desa Biga’ yang berjarak ± 5 km diikuti rombongan besar kaum keluarga. Kira-kira masih 1 km dari rumah mempelai perempuan, kami masih berhenti sebentar karena ada pemberitahuan melalui kak Kui’ Mokoginta bahwa ”pembicaraan para pemangku adat ” di rumah mempelai perempuan belum selesai. Beberapa saat kemudan baru iring-iringan dapat diteruskan.
Beberapa hari setelah menikah saya kembali ke Manado. Isteri saya tinggalkan di Kotamobagu karena di Manado saya masih tinggal di Asrama Pelajar/Mahasiswa Bolaang Mongondow di kampung Pondol tidak jauh dari Kantor Gubernur (saat itu masih kantor lama; sekarang sudah menjadi Matahari Department Store, Jalan Sam Ratulangi Manado). Di asrama ini juga Bapak F.P. Mokodompit sebelum pensiun pernah tinggal untuk beberapa waktu lamanya, waktu Oeke sudah sekolah di Tondano dan pernah liburan di Kotamobagu, sepulangnya ke Manado dengan menumpang mobil, pernah singgah juga di Asrama ini sebelum balik ke Tondano, jadi sebelum menikah kami sudah pernah satu rumah tetapi kamar yang berbeda. Selang 1 bulan kemudian saya mendapat rumah dinas di Bumi Beringin, suatu kompleks perumahan pegawai Kantor Gubernur yang dibangun pada masa kepemimpinan Gubernur Mr. A.A. Baramuli.
Saya menjemput isteri saya dengan mobil jeep tua, kendaraan dinas yang dipakai bergantian di Biro Produksi / Distribusi Kantor Gubernur, saat itu saya menjabat sebagai Pembantu Urusan Distribusi pada Biro tersebut. Sopir yang saya bawa bernama Jus Tumewan, menurut isteri saya Om Jus yang pertama kali memanggilnya Ibu Mokoginta, sesaat setelah kami mealkukan akad nikah. Saat kembali ke Manado, kami ditemani oleh Ibu A.A. Mokodompit (kakaknya Papi Ao) yang kami panggil tante Mely, dan Ibu Elvira Mokodompit. M (adiknya Mami Ao ) yang biasa kami panggil Mama Itik. Perjalanan ke Manado melewati Modoinding-Motoling-Amurang. Saat memasuki desa Motoling di jalan tanjakan, mobil kami mogok dan Om Jus / sopir tidak dapat memperbaikinya. Kebetulan ada roda sapi yang melintas, dan pemiliknya mau menolong menarik mobil kami dengan rodanya sampai di sebuah bengkel kecil di Motoling. Sesudah bengkel di perbaiki, kami meneruskan perjalanan ke Manado yang ditempuh dalam waktu ± 14 jam karena kondisi jalan yang rusak.
Rumah dinas yang kami tempati di Bumi Beringin berukuran 6 × 6 meter dilengkapi dengan dapur dan kamar mandi. Kemudian diadakan renovasi sehingga menjadi lebih luas. Pada waktu itu belum ada air leding sehingga kami memakai air sumur yang pada musim kemarau menjadi kering, sehingga harus pergi mengambil air di mata air kira-kira 300 meter dari rumah. Di depan rumah tersebut ada halaman yang kosong, ibu-ibu yang beragama Islam antara lain Ibu Damopolii, Ibu Lahida, Ibu Arsyad Daud, Ibu Nusi, dan isteri saya sendiri dalam suatu kesempatan bertemu dengan Bapak Gubernur H.V. Worang, dan meminta tanah tersebut untuk digunakan mendirikan sebuah Masjid. Bapak H.V. Worang menyetujuinya dan setiba di rumah, isteri saya langsung mengambil sepotong papan alas tempat tidur, dan menuliskan: ”Di sini akan di bangun Masjid Bumi Beringin” selanjutnya dipancang di atas tanah / lokasi tersebut. Panitia pembangunan yang beranggotakan ibu-ibu segera dibentuk, dan Ketuanya ialah Ibu Hinawan, isteri Jaksa Tinggi yang juga tinggal di Bumi Beringin. Pembangunan Masjid selesai dalam waktu ± 1 tahun berkat partisispasi keluarga muslim di Bumi Beringin dan bantuan lainnya dari masyarakat. Bapak Mukti Ali, Menteri Agama waktu itu, memberi nama ”R.A. Kartini” sebagai pertanda bahwa Masjid tersebut didirikan atas usaha ibu-ibu. Saya menempati rumah dinas ini selama 7 tahun, kemudian pada tahun 1971 pindah ke rumah dinas yang lebih luas tidak jauh dari Gubernuran (Rumah Dinas Gubernur). Saat itu saya menjabat Administratur Bidang Umum (Sekarang Asisten III). Saat menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Utara, saya juga menempati rumah dinas ini setelah diadakan renovasi. Kami menempati rumah dinas ini sampai saya pensiun pada tahun 1991. Pada waktu kami baru pindah ke Bumi Beringin, terdapat banyak anak laki-laki dan perempuan yang tinggal bersama kami. Mereka adalah keponakan-keponakan saya, adik-adik, serta sepupu isteri saya yang bersekolah di Manado. Jumlah mereka cukup untuk membentuk team bola volley putra dan putri. Umumnya mereka berhasil menyelesaikan kuliah di Perguruan Tinggi (UNSRAT maupun APDN), dan STM (setingkat SMA). Ada seorang sepupu dua kali saya, yang masih keluarga isteri saya, namanya Djafar Mokoginta yang sudah cukup lama tinggal bersama kami. Ia yang biasa mengambil / menimba air dari mata air, sewaktu kami masih menempati rumah dinas yang lama. Ia sudah merupakan bagian dari anggota keluarga kami. Pernah saya menunaikan ibadah haji sebagai TPHI pada tahun 1978, dan waktu pulang membawa air Zam-zam yang saya tenteng sendiri, dimana, setiba di rumah isteri saya mengisinya ke dalam beberapa botol lalu disimpan dalam kulkas. Beberapa hari kemudian isteri saya melihat air Zam-zam yang disimpannya sudah habis dan botolnya pun sudah tidak ada. Ketika ditanyakan kepada orang-orang di rumah, Djafar mengaku meminumnya karena dia tidak tahu kalau botol-botol itu berisi air Zam-zam. Isteri saya menegurnya, tetapi dengan nadanya yang kocak dia mengatakan ”ternyata saya mendapat kesempatan meminum air yang Om ambil sendiri, karena saya juga selalu mengambil air untuk Om minum”. Semasa hidupnya, adik Djafar Mokoginta menyelesaikan sekolahnya di STM, dan menjadi PNS di Dinas P.U Provinsi Sulawesi Utara sampai pensiun.
Selama kami di Bumi Beringin, baik sewaktu masih di rumah dinas depan Masjid, maupun di rumah dinas yang baru dan lebih besar (juga di Kompleks Bumi Beringin), kami tetap menjalin hubungan bertentangga yang baik dengan sesama warga kompleks, demikian juga dengan sesama kolega PNS di dalam kedinasan dan di luar kedinasan. Di luar kedinasan saya bersama teman-teman seperti Drs. H.A. Nusi, Drs. J.A Damopolii dan Drs. P. Karambut seringkali bermain Golf, di Lapangan Golf Kayuwatu, dimana saya pernah menjadi Ketua Persatuan Golf. Selain olahraga Golf, kami juga main Billiar atau main Catur antara lain dengan Bapak J.H Supit, dan Sdr Lahida. Kami bermain Billiar biasanya pada malam hari sehingga menuai protes dari isteri-isteri kami. Mereka mengadu kepada Bapak Gubernur H.V. Worang, tetapi dengan tersenyum Bapak Gubernur mengatakan ” biar saja mereka bermain karena perlu rekreasi sesudah kerja keras”. Pernah suatu malam saya sudah membuat janji dengan teman-teman untuk main Billiar, tetapi isteri saya tidak mengizinkannya. Saya berusaha cari akal, akhirnya sambil menepuk-nepuk nyamuk saya mengatakan akan membeli obat nyamuk di warung, padahal saya pergi bergabung dengan teman-teman untuk main Billiar. Sudah tentu sepulangnya di rumah mendapat dampratan keras dari isteri. Demikian juga halnya dengan isteri-isteri kami, mereka sering bermain volley dan tennis bersama-sama. Walaupun kemudian kami tidak tinggal lagi di Bumi Beringin, namun keluarga kami tetap berteman sampai pada anak-anak kami. Anak saya mengatakan ”torang batamang so tiga generasi”, karena sampai anak-anak mereka-pun yaitu cucu-cucu kami ada juga yang berteman. Kemudian mereka membentuk organisasi bernama Muda Charaka untuk menampung kegiatan mereka di bidang otomotif, seni, dan sosial.
Kami sangat bersyukur karena dalam kehidupan berumah tangga telah di karuniakan oleh Allah SWT 5 orang anak. Yang pertama, seorang laki-laki bernama Mohamad Yani, meninggal dunia dalam usia 11 bulan. Sampai sekarang di kalangan keluarga dan sahabat/kenalan, saya dan isteri saya dipanggil papa Yani dan mama Yani. Kemudian setelah ada cucu pertama Mohammad Ikhsan Sandy, kami dipanggil menjadi Aki Ikhsan dan Baai Ikhsan. Sekarang anak-anak kami yang 4 orang sudah dewasa dan sudah berumah tangga.
- Virginita (Nita) Mokoginta, lahir tanggal 9 September 1967 dibawah Zodiak Virgo, sehingga dinamakan Virginita. Teman-temannya suka bercanda dengan mengatakan, ”apakah ia akan selalu virgin sampai tua ”, ia adalah anak yang mandiri, dan ini sudah kelihatan sejak kecil. Ia juga anak yang sangat hati-hati, sehingga adik-adiknya menamakan dia ”Miss Khawatir”. Saat masih duduk di SD, dia membawa adiknya sendiri, Lisa, untuk didaftar di TK tempat ia sekolah sebelumnya. Waktu Nita berumur 4 tahun, kami membawanya ke Jakarta dalam rangka pernikahan Adnan , kakak isteri saya, dengan Endang Utari, anaknya Bapak Ibnu Sutowo, Dirut Pertamina waktu itu. Rombongan dari Kotamobagu cukup banyak dan kami menginap di Perumahan Pertamina Duren Tiga, Jakarta. Di tempat kami menginap selalu ramai karena setiap hari diadakan latihan tarian dan prosesi upacara adat. Nita kecil selalu di depan kamar menjaga jangan-jangan ada orang yang masuk serta duduk di atas koper pakaian, ia khawatir akan diambil orang. Kepada ibunya (isteri saya), selalu dia ingatkan untuk mengunci koper. Nita adalah seorang Dokter Umum lulusan Fakultas kedokteran Univ. Sam Ratulangi, Manado. Ia menikah dengan Drs. Alfons Toluhula M.H, seorang Perwira Menengah POLRI, yang saat ini berpangkat Komisaris Besar Polisi. Ia sendiri sebagai Dokter adalah PNS. Mereka mempunyai 2 orang anak. Yang sulung seorang laki-laki bernama Muhammad Ikhsan Sandy (dipanggil Ikhsan), sudah menunaikan ibadah Haji bersama Ayah dan Ibunya, kini ia sebagai mahasiswa jurusan IT (Informatika Teknologi) pada Universitas Bina Nusantara (BINUS), Jakarta. Memang sejak kecil dia senang dengan Komputer. Anak kedua adalah seorang perempuan bernama Diah Istiqomah yang masih duduk di SD. Nita tinggal bersama anak-anaknya di Cibubur, Jakarta dan sesekali mengunjungi suaminya yang sering berpindah tugas (Sekarang di Polda Kaltim). Bagus juga bagi saya dan isteri karena dapat mengunjungi Kota-kota tempat suaminya bertugas, sekalian menengok cucu. Alfons sudah pernah bertugas di Poso, Palu, Kutacane (Aceh Tenggara), Banda Aceh, Bogor, Jakarta dan Balikpapan. Setelah mengadakan serah terima jabatan Kapolresta Banda Aceh, Alfons pindah tugas sebagai Wakapolwil Bogor, dan beberapa bulan sesudah itu, terjadilah bencana Tsunami di Aceh (2004). Rumah dinas KAPOLRESTA yang pernah mereka tempati, rata dengan tanah, tinggal lantai / fondasinya saja yang tersisa. KAPOLRESTA yang menggantikan Alfons kehilangan isteri dan 2 orang anaknya dalam musibah tersebut. Semoga Allah menerima arwah mereka disisiNya. Amin.
- Asna (Lisa) Mokoginta, lahir tanggal 23 Maret 1970
Asna adalah nama gabungan dari nama kedua Neneknya yaitu Asingki dan Anna. Tetapi nama yang bertahan sebagai nama panggilan sampai sekarang ialah Lisa. Lisa adalah anak yang lincah dan pemberani. Waktu masih di taman kanak-kanak (TK), hari-hari pertama masuk diharuskan memakai papan nama, tetapi Lisa hanya memakainya selama 2 hari saja, ketika ditanya mengapa tidak memakainya lagi, ia mengatakan ”Ibu guru so kenal Lisa pe nama karena ibu guru bilang: Lisa..! duduk..dan jangan jalan-jalan!”. Saat masih di TK, ia juga pernah meminpin anak-anak TK se-Kota Manado untuk menyanyi dalam rangka memperingati Hari Anak. Hal ini nanti kami ketahui beberapa hari kemudian lewat foto yang diberikan oleh gurunya. Pernah kami khawatir karena sudah seharian Lisa belum pulang ke rumah. Setelah di cari di mana-mana ternyata dia mampir bermain di rumah temannya yang bernama Mona (anaknya Dokter Lahuduitan). Lisa adalah seorang Sarjana Perikanan lulusan Fakultas Perikanan UNSRAT. Pada tahun 1969, melalui Departemen Dalam Negeri saya pernah mengikuti test di kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta untuk belajar di Lexington University USA dalam rangka memperoleh gelar MPA (Master of Public Administration). Setelah lulus test saya pulang ke Manado untuk melapor kepada Bapak gubernur, dan mempersiapkan keberangkatan saya ke Amerika Serikat, namun, setibanya di Manado ternyata isteri saya sedang hamil, memang agak dilematis juga bagi saya tetapi akhirnya saya memutuskan untuk mendampingi isteri saya menanti kelahiran bayi, walaupun kesempatan untuk studi ke Amerika Serikat tidak akan datang kedua kali. Alhamdulillah Lisa yang dalam kandungan ibunya saat itu, setelah lulus dari Fakultas Perikanan Univ. Sam Ratulangi Manado, memperoleh kesempatan untuk belajar di University of San Fransisco dan meraih gelar MBA (Master of Bussines Administration). Jadi walaupun ayah tidak jadi ke Amerika tetapi anaknya sempat Sekolah di sana. Saat Lisa wisuda pada tahun 1997 di San Fransisco USA, hanya isteri saya yang dapat menghadirinya karena pada waktu itu saya sibuk dengan tugas di DPR-RI. Sekarang Lisa bekerja sebagai Direktur sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Ia menikah dengan Syamsu Alam Lawele, Spi, Dosen di Universitas Halu Uleo, Kendari, teman satu kuliahnya saat kuliah di Fakultas perikanan UNSRAT. Mereka sekarang tinggal di Bogor, bersama 2 orang anak perempuan mereka yakni Syasna dan Odetta yang masih sekolah di SD.
- Mutu Bulan Mokoginta, seorang anak laki-laki yang namanya diambil dari nama Abo’ Mutu, salah seorang anaknya Abo’ Mokoginta. Dia lahir pada tanggal 9 April 1971. Bulan adalah nama julukannya Abo’ Mutu yang dikenal sebagai seorang pemberani. Waktu Mutu sudah mulai remaja, dia protes juga dengan nama yang agak aneh baginya. Tetapi waktu dia mengikuti ujian terbuka untuk gelar DOKTOR di IPB pada bulan Februari 2009, Bapak Prof. DR. Hardinsyah yang mewakili Rektor IPB, memberi komentar bahwa namanya laksana ”Bulan yang bersinar dan berkualitas”, artinya sebagai Alumni IPB, ia diharapkan dapat menjadikan IPB tetap bersinar dan berkualitas di tengah-tengah masyarakat. Mutu adalah anak yang pendiam tetapi pemberani. Pada hari-hari pertamanya di TK Don Bosco saya mengikuti dan memperhatikannya dari tempat jauh karena orang tua tidak diijinkan menemani anaknya. Saat mereka antri untuk masuk kelas, ada anak yang menghalanginya, saya beri dia isyarat agar jangan mau dipermainkan, Maka ditariknya anak itu, dan menggesernya ke samping sehingga anak itu tidak berani lagi menghalangi. Di TK, ia sudah berani maju untuk menyanyi di depan kelas walaupun saya lihat masih agak malu-malu. Saat SD, Mutu sering berkelahi kalau ada temannya yang mengganggu. Sepulang sekolah mereka biasa berkelahi di bawah jembatan penyeberangan RS Gunung Wenang (sekarang sudah menjadi Hotel Sintesa Peninsula). Sepupunya Ahmad yang sekelas dengan dia, sering memegangi tas dan kemeja. Jadi tiba di rumah kemeja masih bersih tetapi celana dan badan sudah kotor, tak jarang juga pulang dengan kemeja yang sudah robek karena keburu berantem. Bila saya melarangnya berantem, maka ia mengatakan kalau berkelahi dan menang mereka tidak berani lagi mengganggu. Demikian juga walaupun kalah, mereka tidak akan mengganggu lagi karena mereka tahu Mutu tidak takut. Pada masa remaja saya mengijinkan dia menyalurkan hobinya seperti hiking, lintas alam, karate, judo, dan otomotif. Dia aktif juga dalam kegiatan Mahasiswa Pencinta Alam – Univ. Sam Ratulangi. Saya pernah mengirim Mutu untuk sekolah di Pesantren IMIM tingkat Tsanawiyah (setingkat SMP) di Makasar, tetapi hanya selama 2 tahun di sana , ia kembali pulang karena sakit. Saat itu saya bertugas di Gorontalo sebagai Pembantu Gubernur Wilayah II (PGW II). Mutu melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri I Manado, kemudian di SMA Negeri I, dan kuliah di Fakultas Ekonomi Univ. Sam Ratulangi sampai lulus menjadi Sarjana Ekonomi (SE). Ia kemudian melanjutkan lagi ke program Pascasarjana sampai memperoleh gelar Magister Sains (MSi), lalu ia memperoleh kesempatan lagi untuk mengikuti kuliah program S3 di Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, dan Alhamdulillah ia dikukuhkan menjadi DOKTOR pada Ujian Terbuka, bulan Februari 2009. Saat ini ia sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Bolaang Mongondow, sejak ia memperoleh Sarjana Strata I (S1). Mutu menikah dengan Poula Mokoginta SH, yang juga adalah PNS, mereka masih saudara sepupu dua kali atau ”cucu basudara”. Dalam kebiasaan di Bolaang Mongondow, perkawinan antar sepupu diijinkan tetapi sebelum akad nikah diadakan upacara adat ”momontow kon bui’an” yaitu memutuskan ikatan darah antara kedua calon pengantin yang masih berlaku sampai sekarang. Alat kelengkapan upacara ini ialah arang, kunyit, dan darah ayam yang disembelih saat itu. Do’a atau ”itu-itum” yang di ucapkan oleh tua-tua adat ialah ” ki adi’ bo ki ompu namunda in moyayu’ pa doman nongkon panyaki bo bala; dia’ mo dara-darag na’ kolawag, dia’ morondi’ nabing bo dia’ mo pura na’ dugu’ ”. Artinya, semoga anak cucu kamu berdua akan dijauhkan dari segala bala’ dan diberikan kesehatan, tidak akan kuning seperti kunyit, tidak hitam seperti arang, dan tidak merah seperti darah. Rupanya orang tua zaman dahulu sudah menyadari bahwa perkawinan sedarah akan membawa resiko bagi anak-anak mereka sehingga perlu diadakan pemutusan ikatan darah menurut tata upacara adat. Alhamdulillah Mutu dan Ola’ sekarang sudah dikaruniai 2 orang anak yang sehat-sehat, yakni anak laki-laki bernama Junio (masih di SD), dan anak perempuan bernama Thalia (masih berusia 1 tahun).
- Marini (dede’) Mokoginta, lahir pada tanggal 28 Maret 1978 sehingga dinamakan Marini. Panggilan Dede’ adalah nama yang diberikan oleh kakaknya Nita dan sampai sekarang nama ini tetap terbawa-bawa. Sebagai anak bungsu yang umurnya agak berbeda jauh dari kakak-kakaknya, dia suka bermanja-manja sehingga meskipun Dede’ sudah dewasa, kakak-kakaknya masih menganggapnya seperti Dede’ kecil yang dahulu. Waktu saya bertugas sebagai PGW II di Gorontalo, anak-anak yang ikut bersama kami hanya Lisa dan Dede. Walikota Gorontalo pada saat itu ialah Ahmad Najamudin, keluarga kami dan keluarga beliau sudah akrab sejak kami bertugas di kantor Gubernur Sulawesi Utara. Saya sering ke Manado dalam rangka tugas kedinasan dan kadang-kadang bersama isteri saya. Dede’ yang masih sekolah di TK kami titipkan di rumah keluarga Najamudin. Dede’ merasa senang bersama mereka, dan dia mengatakan kalau di rumah Om Naja dan Tante Sari namanya menjadi Marini Najamudin. Waktu Dede’ di TK dan SD, pengasuhnya bernama Ida’, seorang anak dari keluarga asal Jawa yang tinggal bersama kami dan sudah seperti angota keluarga. Dia yang mengurus semua keperluan Dede’ di rumah, demikian juga ke sekolah bersama-sama. Kalau Dede’ mengikuti lomba atau pawai sepeda seperti pada HUT Proklamasi kemerdekaan, Ida’ selalu mengikutinya berjalan kaki sampai berkeringat. Setelah berkeluarga, Ida’ meninggal dunia saat melahirkan anaknya yang kedua. Semasa hidupnya, Ida’ menamatkan sekolahnya di SMEA Negeri, dan menjadi PNS di Kota Manado. Pada tahun 1992 saat saya menjadi anggota DPR-RI, Dede’ ikut dengan kami, dan dia menyelesaikan sekolahnya di Jakarta baik SMP (Negeri) maupun SMA (Al-Azhar). Kemudian dia melanjutkan kuliah pada Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta sampai memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S.Psi). Kini ia bekerja sebagai pegawai/karyawan di perusahaan asuransi AXA Mandiri cabang Manado, dan terakhir, baru saja diterima menjadi CPNS Kota Kotamobagu. Suaminya bernama Hasirwan, seorang Sarjana Geologi, dan bekerja pada perusahaan batu bara di Kalimantan, yang pada akhirnya juga diterima sebagai CPNS di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Mereka dikaruniai 3 orang anak, yang pertama laki-laki bernama Abdul Nurrafif Prayata, yang kedua laki-laki bernama Abdul Nurbara Abrisyam, dan yang ketiga perempuan bernama Ailsha.
Anak-anak kami sejak masih kanak-kanak sudah belajar mengaji sampai tamat Al-
Qur’an, sudah mulai puasa dan sholat 5 (lima) waktu. Guru mereka waktu kecil ialah Uztaz Risali M. Noor, sekarang sebagai pengasuh di Pondok Pesantrean Karya Pembangunan, Manado. Sambil mengaji mereka diberikan juga pelajaran Agama, dan kepada Mutu diajarkan juga Adzan, Iqomah, dan menjadi Imam pada waktu sholat berjamaah. Dengan demikian dalam kehidupan rohani, mereka cukup dibekali dengan ajaran Agama. Ada kebiasaan dalam keluarga kami bahwa anak-anak perempuan saat hendak menikah harus hatam Qur’an terlebih dahulu. Acara ini diadakan pada malam menjelang akad nikah. Alhamdulillah, anak-anak perempuan kami: Nita, Lisa, dan Dede’, sudah hatam Qur’an sebelum menikah.
Saya sangat mencintai isteri dan anak-anak saya dan demikian juga mereka terhadap saya. Saya mengatakan bahwa bagi keluarga ini, Mama adalah segalanya karena sudah dipersiapkan oleh Aki dan Ba’ai (panggilan unutk kakek dan nenek dalam bahasa Mongondow) untuk menjadi Isteri pendamping suami yang baik dan menjadi Ibu yang baik bagi anak-anaknya. Anak-anak pernah bercanda mengatakan bahwa ternyata dalam keluarga ini hanya Mama yang bukan Sarjana. Adalah merupakan kebanggaan bagi saya dan anak-anak bahwa walaupum Mama mempunyai banyak kesibukan dalam mengurus rumah tangga dan keluarga, tetapi Alhamdulillah masih sempat-sempatnya menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara yaitu yang pertama pada tahun 1976 sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW), dan kedua kalinya pada periode 1977-1982. Selain itu masih banyak juga kegiatan yang pernah dilakukan dalam Organisasi Dharma Wanita dan PKK.
Sejak tahun 1969 sudah terbentuk semacam paguyuban Keluarga Besar Mokogintaa di Manado dan sekitarnya, yang didirikan oleh Bapak F. Mokodompit (Alm), Bapak S.M. Mokodompit (Alm), Ibu Elfira Mokodompit (Alm), dan Ibu Layana Hadisutrisno (Alm). Setiap bulan diadakan pertemuan / arisan dan seringkali diadakan di tempat-tempat rekreasi di pinggir pantai seperti pantai Wori, Kema, Kalasey, dan Tanjung Merah. Arisan ini diikuti semua keluarga dan anak-anak, sehingga kami sangat bergembira dan menikmati acara tersebut, yang selain menjalin keakraban keluarga, juga merupakan rekreasi . Arisan ini masih dilaksanakan sampai sekarang, dan kegiatannya adalah silaturahmi antara keluarga, dan memberikan santunan kepada anak-anak yatim-piatu di Panti Asuhan yang ada di Manado maupun di Kotamobagu pada setiap bulan Ramadhan.

KEGIATAN KEMASYARAKATAN
Di samping kegiatan sebagai PNS dalam pengabdian kepada Negara dan pelayanan kepada masyarakat, serta sebagai kepala keluarga maka secara aktif saya ikut juga dalam kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan kemasyarakatan baik di bidang pendidikan dan pembinaan generasi muda, bidang kesejateraan sosial, bidang keagamaan, dan bidang kemanusiaan maupun kegiatan dalam pembinaan kerukunan/kekeluargaan, bahkan sampai penggalangan dan pembinaan masyarakat untuk memilih pemimipin yang baik.
Di bidang Kepramukaan, yang ada kaitannya dengan pembinaan generasi muda, saya pernah menjadi wakil ketua MABIDA (Majelis Pembimbing Daerah) dari tahun 1988 sampai tahun 1991, dan pernah juga sebagai ketua panitia penyelenggara Musyawarah Nasional (MUNAS) Pramuka di Manado yang di hadiri oleh Ibu Tien Soeharto.
Di bidang pendidikan, saya pernah menjadi ketua Ketua Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam (GUPPI) Sulawesi Utara (1976-1985), yang kegiatannya ialah mendorong berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti Madrasah (tingakat SD,SMP, dan SMA) dalam rangka memajukan pendidikan umum dan memajukan pendidikan agama kepada anak-anak didik pada khususnya dan generasi muda pada umumnya. Teman-teman dalam kepengurusan GUPPI waktu itu ialah A.K Bajeber SH, Faisal Mandulangi, dan Anwar Zees. Saya pernah juga menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Dakwah Islamiah (MDI) Sulawesi Utara selang tahun 1986-1991, dan menjadi Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Sulawesi Utara yang waktu itu sempat dilantik oleh Bapak B.J. Habibie (Wakil Presidan RI).
Kegiatan lainnya di bidang pendidikan dilaksanakan melalui Yayasan Karya Islamiah (YKI), Manado. Yayasan ini dibentuk sesudah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Nasional ke X yang diselenggarakan di Manado pada tahun 1977 (masa kepemimpinan Gubernur H.V. Worang ). MTQ Tingkat Nasional ke X ini bagi daerah Sulawesu Utara merupakan momentum bersejarah karena pelaksanaannya didukung oleh semua golongan Agama yang ada pada khususnya dan semua lapisan masyarakat pada umumnya. Terhadap peserta dari Sulawesi Utara yakni para Qori’ (peserta laki-laki) dan Qor’ah (peserta perempuan), diadakan pembinaan dan pelatihan yang intensif oleh suatu team, yang kemudian dilembagakan menjadi Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Sulawesi Utara. Berkat pembinaan dan pelatihan intensif tersebut, maka peserta Sulawesi Utara berhasil menjadi juara I Qori’ah tingkat dewasa, yakni Sarini Abdullah yang selanjutnya menjadi juara I pula pada MTQ Internasional di Kuala Lumpur Malaysia. Saat itu, Saya sebagai Ketua LPTQ Sulawesi Utara.
Ada dua monumen yang dibangun pada waktu itu yakni Islamic Centre di Kompleks Mesjid Raya A.Yani dan Pondok Pesantren Karya pembangunan (PKP) di Kombos. Kedua monumen MTQ ini, oleh Pemda Sulawesi Utara diserahkan pengelolaannya kepada YKI. Dalam kepengurusan YKI, yang mula-mula menjadi ketua ialah Let.Kol. K.H. Jusuf Ontowiryo (Ka. Kanwil Dep. Agama), kemudian saya dan setelah saya tugas di Jakarta menjadi anggota DPR-RI, digantikan berturut-turut oleh M.A. Daud SH, Kol. Rauf Moo, Drs. A. Najamudin, dan setelah saya kembali di Manado pada tahun 2000, menjadi Ketua lagi sampai sekarang. Sejak saat itu banyak kegiatan dilaksanakan di Islamic Centre seperti Majelis Taklim, Ceramah-ceramah, dan pengkajian Agama. Demikian juga di Pesantren PKP, mulai dibuka penerimaan santri di mulai dengan pengiriman dari Kabupaten / Kotamadya se Sulawesi Utara masing-masing 2 orang santri. Jadi dari 7 Kabupaten/ Kotamadya berjumlah 14 orang santri sebagai pionir. Kemudian melalui berbagai upaya, Pesantren ini berkembang pesat di bawah pengasuhnya Rizali M. Noor. Minat orang-orang tuanya untuk mendaftarkan anak-anaknya begitu besar, sehingga sekarang ini dalam kurun waktu ± 30 tahun alumni dari pesantren tersebut sudah ribuan orang yang tersebar di Sulawesi Utara, dan sudah banyak juga yang menambah pedidikannya di Mesir dan Saudi Arabia. Bahkan sudah ada yang memperoleh gelar DOKTOR. Adapun di Islamic Centre, dibuka pula Sekolah Taman Kanak-kanak bagi anak-anak usia dini yang dikenal dengan TK Islamic Centre. Pembina yang pertama adalah Ibu Nuraim Maliki dibantu oleh guru-guru lainnya, antara lain Ibu Rusni. Sekolah TK inipun sekarang sudah berkembang dan menarik minat para orang tua untuk mendaftarkan anak-anaknya. Anak saya, Marini, dan cucu saya, Junio, pernah sekolah di TK Islamic Centre. Sekarang ini cucu saya Rafif sekolah di sana. Sebagai kelanjutannya sekarang sudah dibuka juga SD Plus di Islamic Centre, dan sudah mulai berkembang dengan dibukanya kelas IV. Plusnya di SD ini ialah pelajaran agama Islam dan bahasa Inggrisnya. Kepala SD Plus adalah Ibu Rahma.
YKI pernah juga membuka dan mengelola Pesantren As-Salam dan Panti Asuhan di Bailang- Manado Utara, bekerjasama dengan Yayasan Kesejahteraan dari Direktorat Jendral Pajak/ Departemen Keuangan. Pesantren ini di khususkan bagi santri-santri putri / wanita sehingga dikenal dengan Pesantren Putri As-Salam. Pesantren inipun sekarang sudah berkembang dengan pesat. Alumninya juga sudah ada yang sempat menambah pendidikannya di Kairo (Mesir) dan Madinah (Arab Saudi). Saat masih dikelola oleh YKI, pengasuhnya ialah Uztadz Abdulrahman Latakau. Sekarang pesantren putri As-Salam sudah dikelola sendiri oleh Yayasan As-Salam dari Dir. Jen. Pajak, dan pengasuhnya ialah Uztadz Cholilullah. Panti asuhan pun sekarang dikelola dengan baik oleh Yayasan As-Salam.
YKI disamping mengelola TK, SD, dan Pesantren, pernah juga membina beberapa Masjid yaitu Masjid As-Salam di Jl. 17 Agustus, Masjid Paal Dua, Masjid di Bandara Sam Ratulangi yang pembangunannya diperjuangkan oleh YKI bersama pimpinan Bandara kepada Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, dan Masjid Raya A. Yani, sekarang mesjid itu sudah dikelola oleh Badan Takmir Mesjid (BTM) masing-masing.
Di bidang Palang Merah, saya pernah menjadi ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Sulawesi Utara sejak tahun 1987 sampai tahun 1991, dibantu antara lain oleh M. Lasabuda sebagai Sekretaris, Bahtiar Koja sebagai aktivis PMI dan Prof Adri Sinsuw juga sebagai aktivis PMI. Sebagaimana diketahui bahwa PMI adalah suatu Lembaga kemanusiaan dengan kegiatan-kegiatannya yaitu memberikan bantuan pada waktu terjadi bencana alam (evakuai korban dan lain-lain) , transfusi darah bagi orang-orang sakit atau mengalami kecelakaan dan membina generasi muda melalui Palang Merah Remaja (PMR). Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan, diadakan peningkatan fasilitas kerja seperti kantor sebagai markas. Mula-mula kami mendapat pinjaman beberapa ruangan di kantor kesehatan KODIM Manado untuk dijadikan sebagai markas. Sementara itu dimulai usaha unutk membangun gedung markas PMI Sulawesi Utara yang representatif. Gedung ini dibangun di Malalayang dekat dengan RSU Dokter Kandou dengan anggaran biaya dari partisipasi masyarakat dan dana APBD Sulawesi Utara. Gedung ini sudah selesai dibangun oleh pengurus PMI berikunya (sesudah kami) dan sekarang menjadi markas PMI Sulawesi Utara. Selain itu didorong juga pembangunan markas PMI yang representatif di kabupaten/kotamadya seperti antara lain di Kotamobagu atas Inisiatif Ibu S. Damopolii-Lamakarate (iateri Bupati Bolaang Mongondow). Pembinaan PMR yang beranggotakan siswa-siswa SMP/SMA digiatkan melalui latihan-latihan tentang cara memberikan bantuan apabila terjadi bencana alam seperti evakuasi korban, pengobatan (P3K) dan lain-lain. dalam pembinaan PMR ini, Prof. A. Sinsuw dan J.E Mamangkey (waktu itu kepala dinas PDK) ikut berperan aktif. Yang menjadi perhatian juga pada waktu itu ialah pengembangan Dinas Transfusi Darah untuk memenuhi kebutuhan persediaan darah melalui donor darah. Dinas Transfusi Darah pada waktu itu ialah DTD Kota Manado yang di pimpin oleh Dokter Gina Tambayong dan masih berada di RSU Gunung Wenang. Sekarang Dinas Transfusi Darah sudah berada satu kompleks dengan Markas PMI Sulawesi Utara di Malalayang. Untuk kebutuhan pengadaan darah (donor darah) dan untuk kebutuhan lainnya di adakan pengumpulan dana melalui ”bulan bakkti palang merah” setiap tahunnya. Pada waktu itu, Dr. Ibnu Sutowo selaku ketua PMI Pusat pernah mengunjungi PMI Sulawesi Utara untuk mengadakan peninjauan dan pelantikan pengurus PMI Sulawesi Utara.
Kegiatan kemasyarakatan lainnya ialah waktu bersama-sama dengan tokoh masyarakat asal Bolaang Mongondow seperti Bapak A.H Manoppo (Abo’ Ali), Bapak Usman Damopolii dan Ibu A. Bia – Mokodongan, mendirikan ”rukun pogogutat” Bolaang Mongondow di Manado. Rukun pogogutat adalah merupakan wadah silaturahmi / kekeluargaan dari anggota-anggota masyarakat asal Bolaang Mongondow yang bermukim di Manado dan sekitarnya. Selain itu juga menjadi wadah penghubung dengan anggota-anggota apabila ada hajatan perkawinan atau berita kedukaan, dimana pengurus menyapaikan sambutan dan pesan-pesan secara kekeluargaan. Rukun pogogutat setiap selesai bulan puasa dan selesai Idul Fitri, selalu juga mengadakan ”Halal Bihalal” di kalangan anggota-anggotanya. Saya pernah juga menjadi anggota pengurus Rukun Pogogutat ini. Dewasa ini rukun pogogutat masih ada tetapi tidak aktif lagi karena masing-masing kelompok keluarga telah membentuk kerukunan keluarga sendiri-sendiri.
Setelah pensiun dari PNS maka kegiatan lain yang ada hubungannya dengan kemasyarakatan ialah pernah pernah menjadi ketua Kerukunan Persatuan Pensiunan Keluarga Pamong Praja (K2P2) Sulawesi Utara yaitu pada periode 2002-2005 dan 2005-2008. K2P2 ini di bentuk pada tahun 2002 atas gagasan /prakarsa Bapak C.J. Rantung mantan Gubernur Sulawesi Utara dan bersifat sosial dan berazaskan kekeluargaan. Anggota-anggotanya adalah para pensiunan Pamong Praja Sulawesi Utara dan pensiunan mantan pejabat staf di kantor Gubernur dan dinas-dinas propinsi yang mendaftarkan diri menjadi anggota. Tujuan dari kerukunan ini ialah, selain memelihara dan meningkatkan rasa persatuan/kesatuan serta rasa persaudaraan di antara anggota, juga mengembangkan pemikiran dan pengalaman pensiunan Pamong Praja untuk kepentingan masyarakat di Sulawesi Utara. Dalam rangka mempererat kekeluargaan dikalangan anggota, di adakan arisan setiap bulannya, dan mengadakan peringatan Natal/Tahun Baru serta Halal Bihalal setiap tahunnya.
Dan ”last but not least”, saya pernah menjadi wakil ketua Penasehat Team Sukses /Team Kampanye (TS/TK) pemenangan pasangan calon Gubernur (Drs.S.H. Sarundayang) dan calon wakil Gubernur ( Fredy H. Sualang ) yang di usung oleh PDI-P pada pemilihan Gubernur (pilgub) Sulawesi Utara 2005-2010. Ketua Penasehat adalah Bapak C.J. Rantung (mantan Gubernur Sulawesi Utara), sedangkan ketua TS/TK ialah Bapak M.A. Daud SH. Sebagai relawan saya turut mengadakan penggalangan dan pembinaan kepada masyarakat agar memilih pemimpin yang baik untuk Sulawesi Utara. Dan Alhamdulillah dari 5 (lima ) pasangan calon yang mengikuti pemilihan Gubernur Sulawesi Utara, maka pasangan calon Gubernur Drs.S.H. Sarundayang dan calon wakil Gubernur Fredy H. Sualang berhasil keluar sebagai pemenang, dan di tetapkan sebagai Gubernur Sulawesi Utara dan wakilGubernur Sulawesi Utara terpilih oleh komisi pemilihan umum (KPU) Sulawesi Utara dalam rapatnya tanggal 4 Juli 2005.
Demikianlah kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang telah saya laksanakan baik pada waktu masih aktif sebagai PNS maupun sesudah pensiun. ” Tidak ada gading yang tidak retak” kata pepatah. Demikian pada halnya dengan tulisan ini, pasti banyak kekurangannya. ”Sic transit gloria mundi” demikianlah berlalu kenikmatan dunia.
KESAN ISTERI
Kami menikah pada saat umur saya relatif masih muda yakni baru 19 tahun, sedangkan suami saya sudah berumur 29 tahun. Jadi usia kami terpaut 10 tahun. Waktu kami menikah pada tahun1964, suami saya sudah menjabat Pembantu Urusan Distribusi pada Biro Produksi/ Distribusi Kantor Gubernur Sulawesi Utara. Saat itu menjelang G 30 S /PKI, sehingga kehidupan rumah tangga sangat sulit. Harga-harga barang kebutuhan yang semakin melonjak membuat kami harus prihatin menyesuaikan kebutuhan dengan keadaan gaji yang pas-pasan bahkan kadang-kadang tidak cukup. Kami mendapat gulbur sebagai pengganti bersa jatah pegawai. Mungkin Mami dan Papi di Kotamobagu mengetahui kesulitan kami di Manado sehingga saat panen di sawah mereka mengirim beras. Kadang-kadang kalau uang belanja sudah habis, saya menukar beras dengan ikan dan keperluan dapur dari penjual ikan dan sayur-sayuran langganan kami yang lewat di rumah setiap hari. Bahkan dia juga mau menukar dagangannya dengan baju-baju bekas yang saya tawarkan. Saat anak kami yani masih bayi, keadaan masih belum membaik sehingga dia hanya minum susu pembagian dari kantor Gubernur. Suatu hari susu habis, terpaksa suami saya menjual cincin emas pemberian ayahnya sejak masi di SMA untuk membeli susu. Syukurlah keadaan sudah makin membaik pada saat kehadiran anak-anak kami selanjutnya.
Suami saya adalah orang yang sangat mencintai keluarga / isteri dan anak-
anaknya. Dirumah dia tidak membatasi mana pekerjaan laki-laki dan mana pekerjaan perempuan. Jika dirumah tidak ada pembantu, maka dengan senang hati dia membantu saya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga kecuali memasak. Dia mau menggendong anak-anak yang rewel apabila sakit, bergantian dengan saya sepanjang malam. Dan secara rutin masih menyempatkan diri mengantar anak-anak ke sekolah dan menjemput mereka, menghadiri rapat orang tua murid dan menerima raport. Pada waktu menjadi mahasiswa di FEKON UNSRAT, suami saya aktif sebagai ketua POM (persatuan orang tua mahasiswa )
Suami saya juga sangat menghargai perhatian saya dan anak-anak sekecil apapun kepadanya, misalnya pijatan di pundak, dipunggung dan di dahi sehingga anak-anak tahu betul bahwa cara ini sangat ampuh untuk meminta sesuatu kepada bapak mereka yang biasanya langsung di penuhi. Dalam mendidik anak-anak , dia tidak banyak bicara tetapi memberikan teladan kepada mereka. Saya hampir tidak pernah mendengar dia marah kepada anak-anak dengan suara yang keras atau memukul mereka. Namun demikian, walaupun suami saya adalah seorang yang sabar, tetapi akan sangat marah jika sepulang dari kantor atau dari tugas luar melihat anaknya cedera walaupun hanya luka tergores apalagi kepala benjol karena terbentur. Dan kemarahannya di tumpahkan dengan memukulkan tangan diatas meja atau pada tembok.
Suami saya adalah orang yang cukup romantis. Waktu dia akan kembali ke Jogja untuk meneruskan kuliah, dia sempat mengirim lagu pilihan pendengar (verzock) lewat RRI-Manado. Lagunya adalah ”do’a dan restumu” dan ”remember you’re mine”. Saya mendengarkannya karena acara yang disiarkkan oleh RRI pada saat itu adalah acara populer yang jarang saya lewatkan. Mendengar kiriman lagu tersebut saya hanya merasa senang tanpa menghiraukan kata-katanya. Kemudian hari sesudah kami menikah , baru dia mengungkapkan makna kata-kata yang terdapat dalam lagu yang dia kirimkan kepada saya. Sampai sekarang dia masih mengucapkan kata-kata atau melakukan hal-hal yang membuat saya surprise. Namun dia adalah orang yang agak tertutup. Dalam percakapan kami sehari-hari dia tidak pernah memanggil nama saya (Oeke) sejak sebelum menikah sampai sekarang, kecuali apabila bercakap-cakap dengan orang lain. mungkin ini suatu penghormatan kepada saya. Ketika sudah anak kami Yani, baru dia memanggil saya ”Ina’ Yani” dan ketika cucu kami Ikhsan lahir, dia memanggil saya ”Ba’ai Ikhsan”.
Suami saya adalah orang yang pekerja keras dan disiplin terutama terhadap dirinya sendiri. Selain dikantor, dia bisa bekerja di rumah sampai pagi untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Dia selalu melakukan apa saja yang di anggapnya berguna dan berkaitan dengan tugas-tugasnya dengan penuh disiplin dan tanggung jawab. Teguh memegang rahasia pekerjaannya dan tidak pernah menceritakan hal-hal yang menyangkut tugas-tugasnya. Tetapi kami tetap/selalu mendiskusikan hal-hal penting yang menyangkut kehidupan kami. Selain itu dia sangat menghargai waktu. Apabila mendapat undangan untuk sesuatu acara di kecamatan atau di desa ketika masih pejabat, dia sudah datang/hadir 15 menit sebelum acara di mulai, sehingga panitia sempat kalang kabut karena waktu dia tiba, mereka masih sedang mengatur kursi dan lain-lain.
Saya sangat kagum dengan sifat religieus suami saya. Selain puasa di bulan Ramadhan di tambah puasa sunnah syawal (selama 6 hari setelah Idul Fitri), maka sejak 10 tahun terakhir dia juga selalu melaksanakan puasa sunnah senin-kamis walaupun ada kesibukan pada hari-hari tersebut. Hal ini katanya terutama adalah mengharapkan ridho Allah SWT, selain untuk menjaga kesehatan dan (sambil tersenyum) dia mengatakan untuk menunjang program ketahanan pangan. Juga selain sholat 5 waktu sehari semalam, saya sering terbangun pada malam hari melihat suami saya melaksanakan/ mendirikan sholat sunnah Tahajud setiap malam, dan saya sangat terharu mendengar dia menyebut nama saya dan anak cucunya dalam do’anya. Secara teratur dia juga membaca Al-Qur’an sampai tammat dan mengkaji makna dan kandungan ayat-ayat suci di dalamnya melalui tafsir Al-Qur’an.
Dalam halmenjaga kesehatan dan stamina tubuh, suami saya juga rajin berolah raga ringan seperti jalan pagi dan senam, demikian juga secara teratur mengkonsumsi obat atau vitamin sesuai anjuran dokter, dan mengkonsumsi makanan sehat sehari-hari.
Usia perkawinan kami sampai sekarang sudah mencapai 45 tahun. Suami saya Insya Allah pada tanggal 5 Mei 2010 akan memasuki usia 75 tahun, dan saya 65 tahun pada tanggal 13 Januari 2010 nanti. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya serta kesehatan kepada kami dalam menjalani sisa hidup ini, dan Insya Allah masih dapat berguna bagi orang lain khususnya kepada anak-anak dan cucu-cucu kami. Amin ya rabbal alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s